Gus Ipul Dukung Buku 'Memburu Muhammad' Diusut: Jangan Terpancing

Gus Ipul Dukung Buku 'Memburu Muhammad' Diusut: Jangan Terpancing

Dwi Rahmawati - detikNews
Minggu, 27 Sep 2026 13:53 WIB
Gus Ipul Dukung Buku Memburu Muhammad Diusut: Jangan Terpancing
Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/9/2026). (Dok. Kemensos)
Jakarta -

Sekjen PBNU 2021-2026 Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mendukung pengusutan buku bertajuk 'Memburu Muhammad' yang diduga melakukan penistaan agama. Gus Ipul mengatakan, jika ditemukan bukti mengarah ke penistaan agama, kasus itu mesti berlanjut ke proses hukum.

"Yang pertama kita mendukung lah polisi untuk mengusut ya, mendalami dan jika ditemukan unsur pelanggaran hukum, ya, kita mendukung untuk diteruskan ke proses hukum," kata Gus Ipul saat dihubungi, Minggu (27/9/2026).

Ia berharap masyarakat tak terpancing sampai ada keterangan lanjutan dari pihak berwajib. Ia meminta agar kasus ini dihadapi dan dicermati secara bijak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi mendukung tindakan atau langkah-langkah polisi. Yang kedua, meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing. Ya, jadi ini, kita harus sikapi secara bijak, ya. Kita dudukkan perkaranya dengan baik. Lalu kita cermati isinya. Tentu itu yang kedua. Jadi kita minta, kita jangan ada yang terpancing," ungkap dia.

Gus Ipul mengatakan latar belakang dari penulis buku tersebut juga perlu didalami. Ia menyebutkan motif dari pembuat buku hingga saat ini belum diketahui.

ADVERTISEMENT

Gus Ipul memandang judul dalam buku itu kontroversial. Ia melihat tulisan semacam itu bisa membuat gaduh di tengah masyarakat.

"Yang ketiga, kita perlu juga mengetahui siapa penulisnya ini, Kemudian motivasinya apa. Orangnya ini siapa gitu. Jadi kita tahu apa, paling nggak latar belakang dari penulisan ini disengaja, iseng, atau penulisnya sakit jiwa. Kan kita nggak tahu," ujar Gus Ipul.

"Nah itu jangan perlu terpancing, jangan terpancing. Itu kita lihat dulu, tapi yang jelas bahwa tulisan-tulisan seperti ini hanya tulisan yang hanya bisa bikin gaduh. Memancing di air keruh. Dan nggak apa ya, nggak relevan dengan situasi dan kondisi di tengah-tengah masyarakat,' tambahnya.

Polda Metro Selidiki

Sebelumnya, jagat media sosial dihebohkan oleh kemunculan dua buku yang diduga menistakan agama. Dua buku yang dimaksud berjudul 'Bukan Perawan Maria' dan 'Memburu Muhammad'.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pihaknya baru mendapat informasi mengenai hal tersebut. Dia menegaskan kemunculan buku itu akan didalami oleh pihak kepolisian.

"Ini pasti akan didalami, baik itu dari Direktorat Siber apabila berada di dunia digital, maupun dari pihak Ditreskrimum," ujar Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Kamis (24/9).

Penulis Jelaskan Buku 'Memburu Muhammad'

Feby Indirani, penulis buku berjudul Memburu Muhammad dan Bukan Perawan Maria yang dipersoalkan sejumlah pihak, buka suara terkait kedua karyanya tersebut. Dia mengatakan karya fiksi yang ia buat lahir dengan niat baik.

Feby awalnya menjelaskan background dirinya yang tumbuh sebagai seorang muslim. Dia mengatakan karya-karyanya berakar kuat pada tradisi, khazanah, hingga keragaman tafsir dalam dunia Islam.

"Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi, kekayaan khazanah, serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil saya terbiasa membaca dan mendengar kisah-kisah hikmah yang memotret dunia, manusia, dan kebenaran secara arif, reflektif, penuh humor, serta tidak pernah hitam-putih," kata Feby saat dihubungi, Senin (28/9/2026).

Dia pun mengatakan kedua karyanya, yang belakangan dipersoalkan hingga tengah didalami pihak kepolisian tersebut, bersumber dari pengalaman dan pengamatannya sehari-hari sebagai umat Muslim. Buku-buku itu, kata dia, ikhtiar untuk mencerminkan kompleksitas dalam beragama.

"Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk mencerminkan warna, dinamika, serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari," ucap dia.

Karena itu, ia menekankan karya sastra tidak bisa hanya dinilai dari membaca judul berita atau artikel opoini. "Sebagai karya sastra, fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi: ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif, simbol, dan kiasan. Teks sastra tidak dapat dinilai dengan cara membaca judul berita atau artikel opini," imbuh dia.

Dia lantas membahas karyanya, Memburu Muhammad. Feby menjelaskan buku tersebut menggunakan sudut pandang tokoh fiktif yakni Abu Jahal yang merupakan musuh utama Nabi Muhammad yang kemudian diam-diam mengakui kehebatan Nabi Muhammad.

"Sebagai contoh, dalam cerpen Memburu Muhammad-sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut-saya menggunakan sudut pandang tokoh fiktif, yakni Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh, ia tentu enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun mengakui kehebatannya. Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya," jelas dia.

"Apa yang sesungguhnya 'diburu' dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi-selaras dengan makna kata 'memburu' dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu," lanjutnya.

Dia menyampaikan karyanya tersebut ditempatkan dalam koridor sastra dakwah bahkan telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi. Jejak kedua bukunya, kata dia, sudah dibaca secara wajar oleh ribuan umat muslim.

"Secara akademis, kajian terhadap buku ini bahkan menempatkannya dalam koridor sastra dakwah (seperti yang dicatat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid). Karya-karya ini juga telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan telah dibaca secara wajar oleh ribuan umat muslim," tutur dia.

Ia mengatakan karya Bukan Perawan Maria (BPM) pertama kali terbit pada 2017, di mana Menteri Agama RI saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, hadir memberikan pidato kebudayaan dalam peluncurannya. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Italia pada 2019, lalu diterbitkan ulang di Indonesia oleh Bentang Pustaka yang merupakan bagian dari Mizan Group, pionir penerbitan buku-buku Islam sejak 1980-an.

Sementara itu, buku berjudul Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Saat peluncuran daring di masa pandemi, buku ini dibahas tuntas dan mendalam oleh Gus Ulil Abshar Abdalla yang merupakan Ketua PBNU.

"Saya menulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik, sebuah ikhtiar kreatif mengajak kita merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat," pungkasnya.

Simak juga Video: Pramono Berduka atas Kericuhan Maut di Menteng, Minta Diusut Tuntas

Halaman 3 dari 2
(dwr/knv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini