Pemulihan Solok Dikebut, Jalan dan Sungai Dinormalisasi

Pemulihan Solok Dikebut, Jalan dan Sungai Dinormalisasi

Rafi Ghifari - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 21:43 WIB
Kemendagri
Foto: dok. Kemendagri
Jakarta -

Penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, terus dilakukan melalui pembersihan akses jalan, pemulihan aliran sungai, dan pemenuhan kebutuhan warga terdampak.

Pemulihan aliran sungai dilakukan melalui pengerukan Sungai Batang Baliang dan Sungai Koto Gaek sepanjang dua kilometer yang ditargetkan rampung dalam dua minggu.

Pengerukan tersebut juga disertai pengerahan empat alat berat oleh BWS Sumatera V untuk membersihkan material yang menyumbat aliran sungai sekaligus memperkuat tebing dan tanggul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Material batu besar hasil pengerukan akan dimanfaatkan untuk memperkuat tebing dan tanggul penahan, sedangkan bagian hilir diperkuat dengan bronjong untuk menangani sedimentasi dan penyempitan aliran.

Penanganan aliran sungai juga berjalan bersamaan dengan pembersihan jalur nasional Padang-Solok di kawasan Arosuka Km 36+600. BPJN Sumatera Barat memobilisasi 26 alat berat dan kendaraan pendukung untuk menyingkirkan batu, lumpur, serta material lainnya, sementara lalu lintas dilayani dengan sistem buka-tutup selama pekerjaan berlangsung.

ADVERTISEMENT

Pembersihan jalur tersebut juga dilakukan dengan penyemprotan permukaan dan bahu jalan untuk mengurangi lumpur licin yang membahayakan pengguna. Dua mesin pemecah batu turut dioperasikan agar material berukuran besar dapat dihancurkan, sedangkan jembatan yang tersumbat material juga dibersihkan agar aliran air kembali berjalan lebih lancar.

Rangkaian penanganan di lapangan juga ditinjau oleh Tim Supervisi Posko Nasional Satgas PRR Pascabencana Sumatera bersama Wakil Bupati Solok dan instansi teknis untuk memastikan pembersihan jembatan yang terdampak material banjir.

"Jembatan yang tersumbat dibersihkan baik di Jembatan Arosuka maupun di jalan poros," ujar Ketua Tim Monev Khusus Kombes Pol, Dennie Andreas Dharmawan dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/09/2026).

Penanganan yang dilakukan saat ini juga disiapkan untuk menghadapi risiko banjir dalam jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur di kawasan hulu. BWS Sumatera V merencanakan penyusunan desain teknis sabo dam, sedangkan Tim Supervisi merekomendasikan pengawalan Posko Nasional Satgas PRR terhadap penyelesaian desain tersebut agar rencana perlindungan dapat berlanjut ke tahap konstruksi.

Kebutuhan warga terdampak juga menjadi bagian penting dari penanganan, seiring berjalannya pemulihan infrastruktur di sejumlah lokasi. Data per 24 September 2026 mencatat 411 jiwa terdampak langsung, dengan 53 keluarga atau 183 jiwa masih berada di pengungsian, terdiri atas 38 lansia, 39 balita, enam bayi, dan tiga ibu hamil.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih setelah jaringan perpipaan terputus, BPBPK Sumatera Barat mengerahkan tiga mobil tangki air ke posko pengungsian. Bantuan logistik awal dari BNPB juga telah disalurkan dan posko utama kembali mendata kebutuhan perlengkapan bayi dan kebutuhan perempuan, peralatan memasak, serta alat kebersihan.

Pemenuhan kebutuhan warga juga disertai pendampingan kesehatan dan psikososial bagi kelompok rentan. Tim SAR gabungan juga masih melanjutkan pencarian satu warga yang hilang dengan memperluas penyisiran hingga delapan kilometer menggunakan alat berat, anjing pelacak, dan drone termal.

Seluruh penanganan tersebut melibatkan lebih dari 1.000 personel lintas instansi yang dibagi ke dalam empat sektor kerja sesuai kebutuhan di lapangan. Pengerahan personel juga mencakup pembersihan kompleks perkantoran Pemkab Solok agar pelayanan masyarakat dapat segera pulih setelah 11 kantor dinas terdampak timbunan lumpur.

(prf/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini