Penyebab Daratan Gunung Anak Krakatau Makin Meluas

Penyebab Daratan Gunung Anak Krakatau Makin Meluas

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 20:54 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: PVMBG/Handout via REUTERS
Gunung Anak Krakatau saat erupsi beberapa waktu lalu (Foto: PVMBG/Handout via REUTERS)
Jakarta -

Gunung Anak Krakatau bertumbuh. Kini luas daratan Gunung Anak Krakatau bahkan telah melampaui ukuran sebelum mengalami erupsi dan kolaps pada Desember 2018.

Berdasarkan citra Sentinel per 8 Agustus 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi awalnya mencatat luas daratan gunung yang berlokasi di Selat Sunda itu sekitar 312,3 hektare.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 4-6 September 2026. Akumulasi material erupsi berkelanjutan membuat daratan Gunung Anak Krakatau kembali pulih dan membesar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, berdasar pemantauan citra Satelit Sentinel per Selasa (15/9), total luas daratan Gunung Anak Krakatau sekitar 341,5 hektare (ha). Ada tambahan endapan material seluas 32,8 hektare usai Anak Krakatau erupsi pada awal September 2026.

ADVERTISEMENT
Luas Anak Krakatau bertambah menjadi 32,8 hektare.Luas Anak Krakatau bertambah 32,8 hektare sehingga menjadi sekitar 341,5 hektare (ha). (Foto: Istimewa)

Luas daratan Gunung Anak Krakatau kini bahkan melampaui ukuran gunung sebelum erupsi pada akhir 2018 lalu.

Sebelum Erupsi 2018

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dan bencana longsoran pada 22 Desember 2018. Peristiwa itu sempat memicu gelombang tsunami di wilayah Banten dan Lampung.

Sebelum erupsi atau tepatnya 19 Desember 2018, luas gunung yang masuk wilayah Lampung Selatan, Lampung itu mencapai 300 hektare.

Luas Gunung Anak Krakatau kemudian berkurang usai mengalami erupsi dan bencana longsoran.

"Bencana keruntuhan sektor barat daya tersebut sempat memangkas drastis daratan gunung menjadi tersisa 246,18 hektare per 26 Desember 2018," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati dilansir Antara, Sabtu (26/9/2026).

Fase Rekonstruksi Sesuai Riset

Pertumbuhan masif ukuran fisik daratan tersebut sejalan dengan hasil riset kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, serta PVMBG, yang mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini tengah berada dalam fase rekonstruksi dan pembangunan kembali (rebuilding phase).

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama University of Birmingham, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan proses pertumbuhan kembali tersebut masih berlangsung hingga 2026.Penelitian BRIN bersama University of Birmingham, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, dan PVMBG menunjukkan proses pertumbuhan kembali tersebut masih berlangsung hingga 2026. (Foto: BRIN)

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem geologi dinamis yang berkembang melalui siklus panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembentukan kerucut baru.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini.

Dini memaparkan peristiwa runtuhnya sektor barat daya pada 22 Desember 2018 memuntahkan material sekitar 0,116 kilometer kubik ke laut, memangkas ketinggian puncak dari 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.

Hilangnya beban tubuh gunung secara mendadak sempat mengubah mekanisme erupsi dari Strombolian menjadi Surtseyan yang eksplosif akibat masuknya air laut ke celah kawah.

Namun sejak 2019 hingga 2026, aktivitas erupsi bertransisi kembali ke tipe Strombolian, lava fountain, serta lelehan lava baru yang menumpuk di atas kawah pascakolaps dan secara konsisten menambah volume daratan gunung.

Pertumbuhan Tak Simetris

Meski demikian tim peneliti BRIN menggarisbawahi bahwa pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera bawah laut yang curam, sedangkan bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang lebih dangkal.

Struktur fisik gunung yang tersusun atas penumpukan lava padat dan berat di atas endapan tuf ringan berpori, ditambah posisi berdiri di atas lereng kecuraman yang berbeda, menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika kestabilan lereng Anak Krakatau dalam jangka panjang.

"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," tutur Dini.

Halaman 2 dari 3
(jbr/aik)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini