Dia memang terbiasa duduk di belakang karena dirasa lebih nyaman. Namun, kenyamanan itu berubah menjadi petaka saat seorang penjaja koran naik ke dalam bus itu.
"Saya diminta membeli koran, yang di dalam lempitannya berisi majalah porno. Karena saat itu dia membawa sebilah pisau, ya terpaksa saya harus mengeluarkan uang Rp 20 ribu," cerita Aldi, kepada detikcom, Senin (17/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenyataan pahit yang dialami Aldi, hanya sebagian kecil saja tindak kriminal yang dilakukan para pemalak. Mereka berkedok sebagai penjaja koran ataupun pengamen.
Jika meminta uang, para pengamen ini tak segan-segan memaksa dengan menunjukkan senjata tajam yang mereka bawa.
Kisah pahit di Terminal Kalideres ini tidak hanya dialami Aldi. Indra, warga Kalideres juga sering merasakannya saat naik Patas AC P-18 atau P-69. "Tapi semenjak ada busway, saya tidak lagi naik bus itu. Sebab setiap hari pasti ada saja yang kena palak," ujarnya. (mar/nrl)










































