Kemendag Gandeng BINUS University Kembangkan Ekosistem Wirausaha

Kemendag Gandeng BINUS University Kembangkan Ekosistem Wirausaha

Rafi Ghifari - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 10:50 WIB
Kemendag Gandeng BINUS University Masuk Campuspreneur
Foto: Kemendag
Jakarta -

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng BINUS University dalam program Campuspreneur untuk mengembangkan wirausaha muda berorientasi ekspor. Program ini menjadi bagian dari upaya Kemendag memperluas pembinaan kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan sinergi pemerintah dengan perguruan tinggi diperlukan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus.

"Bergabungnya BINUS University hari ini menandakan Kemendag telah menjalin sinergi dengan 25 kampus untuk mengembangkan ekosistem wirausaha di perguruan tinggi. Kami harap, BINUS University menjadi contoh terbentuknya calon pengusaha dari kampus," ujar Budi, dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/09/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sinergi Kemendag dan BINUS University tersebut juga dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) implementasi Tridarma Perguruan Tinggi di bidang perdagangan. MoU tersebut ditandatangani oleh Rektor BINUS University Nelly dan Sekretaris Jenderal Kemendag Isy Karim serta disaksikan Mendag Budi Santoso.

Rangkaian kegiatan tersebut juga diikuti enam penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara UMKM binaan BINUS University dan ritel modern. Lima UMKM menandatangani LoI dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), sedangkan satu UMKM menandatangani LoI dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

ADVERTISEMENT

Rektor BINUS University Nelly menegaskan pelaku usaha tidak hanya perlu memiliki produk yang baik, tetapi juga memahami pasar, memiliki strategi dan jejaring, serta mampu menangkap peluang.

"Campuspreneur menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para praktisi, membangun koneksi, serta memahami perjalanan bisnis dari pasar lokal menuju pasar global. Semoga kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan, inspirasi, dan jejaring yang membuka semakin banyak peluang untuk membawa ide dan bisnis Indonesia berkembang ke pasar global," ujarnya.

Rangkaian Campuspreneur di BINUS University juga diisi berbagai layanan konsultasi bagi mahasiswa dan pelaku UMKM. Kemendag menghadirkan Klinik Konsultasi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Perizinan, Klinik Desain, Klinik Ekspor, Klinik Standar, Kemasan, dan Mutu, Klinik Sertifikasi, serta Klinik Kemitraan.

Salah satu peserta kuliah umum Campuspreneur, Lanang Bayu Triaji, mahasiswa Program Studi International Business Management (IBM) BINUS University, berharap program tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dan pelaku usaha muda.

"Harapan saya, para peserta dapat memahami materi yang telah diberikan dan semakin berani mengambil peluang untuk go international," ujar Lanang.

Campuspreneur merupakan salah satu klaster kegiatan dalam Program Dari Lokal untuk Global yang diusung Kemendag. Program tersebut dirancang untuk membekali sivitas academica dengan pengetahuan kewirausahaan melalui pelatihan ekspor dan pendampingan usaha untuk mengembangkan pasar dalam dan luar negeri.

Peserta Campuspreneur terpilih juga memiliki kesempatan mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Kemendag akan menyediakan stan khusus untuk menampilkan produk Campuspreneur yang telah melalui proses kurasi.

Dalam kegiatan tersebut, Mendag Budi Santoso juga melepas ekspor 1.560 ton produk arang tempurung kelapa atau coconut charcoal ke Tiongkok senilai USD 1,34 juta atau sekitar Rp23 miliar oleh FUTRA Export. Pendiri FUTRA Export, Steven Magnus, menyebut pendampingan Kemendag turut membantu pengembangan ekspor perusahaannya melalui sejumlah fasilitas perdagangan.

Mendag Budi juga mengajak pelaku UMKM untuk tidak ragu memasuki pasar ekspor melalui program UMKM BISA Ekspor, dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki.

"Jadi, tidak perlu minder atau ragu jika belum pernah ekspor, karena tidak semua peserta UMKM BISA Ekspor sudah pernah ekspor. Indonesia juga tidak kekurangan produk karena UMKM kita memiliki banyak produk yang bagus. Justru hal penting yang harus dimiliki adalah konsistensi menjaga produk dan kemampuan memasarkannya," ujar Budi.

Program UMKM BISA Ekspor juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperluas akses pasar melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara. Jaringan tersebut mencakup 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang dapat membantu promosi produk lokal serta mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli dari luar negeri.

Rangkaian Campuspreneur juga menjadi bagian dari upaya Kemendag memperkenalkan proses pengembangan usaha dari pasar lokal menuju pasar global kepada mahasiswa dan pelaku UMKM. Pelatihan, konsultasi, jejaring usaha, serta akses terhadap kegiatan perdagangan memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan bisnis berorientasi ekspor.

Tonton juga video "Kemendag dan Apple Academy Bahas Kerja Sama Dorong UMKM Go Global"

(akd/akd)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini