Media alternatif baru anggota Koalisi Media Alternatif (KOMA), INKLUSIFA resmi diperkenalkan. Media baru ini fokus pada sudut pandang inklusivitas, kesataraan hingga keberagaman.
INKLUSIFA mulai diperkenalkan melalui INKLUSIFA TALK yang mengangkat tema "Inclusive Leadership: Strategi Memimpin dalam Keragaman untuk Membangun Organisasi Inklusif", Jumat (25/9/2026), di ALP HUB, GAMA TOWER, Kuningan, Jakarta Selatan.
Kehadiran INKLUSIFA menandai langkah baru dalam menghadirkan media yang secara khusus membawa perspektif inklusivitas, keberagaman, kesetaraan, pemberdayaan, serta kepemimpinan inklusif ke ruang publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
INKLUSIFA dibangun dengan gagasan bahwa keberagaman bukan hanya persoalan demografi, tetapi juga bagian dari dinamika sosial, dunia kerja, organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, dibutuhkan ruang informasi dan dialog yang dapat mempertemukan berbagai perspektif tersebut.
"INKLUSIFA hadir sebagai media dengan perspektif inklusi yang memiliki visi sebagai media yang berpihak pada keragaman untuk kemanusiaan," ujar Pemimpin Redaksi INKLUSIFA, Devi P.Wihardjo, Jumat (25/9/2026).
Melalui INKLUSIFA, Devi mengungkapkan, media ini akan mengembangkan berbagai konten yang membahas isu-isu terkait inklusivitas dengan pendekatan informatif, edukatif, dan kolaboratif.
Ruang editorial INKLUSIFA diarahkan untuk mempertemukan berbagai suara mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, profesional, pemimpin organisasi, hingga masyarakat dalam membicarakan tantangan dan peluang membangun lingkungan yang lebih inklusif.
Dengan demikian, INKLUSIFA tidak hanya hadir sebagai kanal pemberitaan, tetapi juga sebagai platform dialog dan pertukaran gagasan.
Momentum peluncuran INKLUSIFA dikemas melalui INKLUSIFA TALK dan peluncuran buku Seri Pertama terbitan INKLUSIFA yang membahas inclusive leadership sebagai salah satu isu penting dalam membangun organisasi yang mampu mengelola keragaman.
Devi juga mengungkapkan, Buku berjudulInclusive Leadership: Strategi memimpin dalam Keragaman untuk Membangun Organisasi Inklusif menekankan bahwa Inklusi bukan sekadar memasukkan individu ke dalam sistem yang sudah ada."Inklusi menuntut perubahan pada sistem, budaya, kebijakan dan cara organisasi bekerja agar dapat mengakomodasi keberagaman yang ada," jelasnya.
Sesi utama menghadirkan Lely Wahyuniar, Board Founder INKLUSIFA dan Leadership Coach yang menjadi penulis Inclusive Leadership: Strategi memimpin dalam Keragaman untuk Membangun Organisasi Inklusif
Lely menuturkan, banyak organisasi atau perusahaan yang memiliki anggota beragam tapi tidak benar-benar inklusif dan memicu favoritisme.
"Sebenarnya persoalan bangsa kita yang secara tidak sadar menciptakan iklim kerja yang tidak nyaman akibat tidak memahami benar makna inklusi sesungguhnya, ini mengakibatkan keberagaman hanya menjadi simbol akan tetapi praktik dasarnya justru menyebabkan diskriminasi bahkan favoritisme yang membuat lingkungan kerja menjadi tidak nyaman," ungkapnya.
Media alternatif baru anggota Koalisi Media Alternatif (KOMA), INKLUSIFA Foto: (Dok Istimewa) |
Diskusi tersebut juga membahas bagaimana pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi keberagaman perspektif, partisipasi, serta kontribusi setiap individu dalam organisasi.
Acara menghadirkan secara taping wawancara Yan Wibisono, Associate Director of Human Resources & General Service pada salah satu perusahaan fast food terbesar di Indonesia, dalam sesi exclusive interview untuk melihat perspektif praktisi mengenai pengelolaan manusia dan keberagaman di lingkungan kerja.
"MC Donald menerapkan ruang kerja inklusif, kami menerima karyawan disabilitas dan membuat Human Resource berfungsi sebagai divisi yang benar-benar menggali bakat karyawan, menerapkan Key Performance Indicator (KPI) yang juga Inklusif, kadang perusahaan menerapkan penyamarataan atas nama keadilan, tanpa memahami hambatan dan tantangan dari setiap individu karyawan," jelasnya.
Peluncuran INKLUSIFA juga menjadi bagian dari rangkaian acara yang menghadirkan perspektif pemerintah. Dalam kesempatan yang sama, hadir Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia Deka Kurniawan.
Deka menyambut baik Diskusi ini karena sejauh ini belum ada platform media yang fokus menghadirkan cerita tentang budaya pikir masyarakat Indonesia. "Kita sering melihat peristiwa kemanusiaan yang menghadirkan rasa empati dan kita menganggap bahwa itu saja yang disebut solidaritas kemanusiaan, akan tetapi dengan berpikir Inklusif mulai dari sendiri juga bentuk kemanusiaan yang utuh, ini akan sangat berdampak bagi kemajuan segala sektor di Indonesia," ujarnya.
Hadir dalam diskusi sekaligus soft launching Inklusifa perwakilan dari Komisi Nasional Perempuan, Koalisi Media Alternatif, UNICEF, Kadin Indonesia, Remark Asia, BPOM dan akademisi.
Kehadiran pemerintah dalam momentum ini diharapkan menjadi bagian dari dialog yang lebih luas mengenai pemberdayaan, kesetaraan, perlindungan, dan pembangunan lingkungan yang inklusif.
Dalam momentum ini, INKLUSIFA juga memperkenalkan Seri pertama buku INKLUSIFA: Strategi Memimpin dalam Keragaman untuk Membangun Organisasi Inklusif.
Buku tersebut menjadi salah satu sumber gagasan yang melengkapi ekosistem INKLUSIFA dalam mengangkat tema kepemimpinan, keragaman, dan inklusivitas.
Media alternatif baru anggota Koalisi Media Alternatif (KOMA), INKLUSIFA Foto: (Dok Istimewa) |
Tentang INKLUSIFA
INKLUSIFA adalah media alternatif independen dan platform yang menghadirkan informasi, edukasi, dialog, dan kolaborasi seputar inklusivitas, keragaman, kesetaraan, pemberdayaan, dan kepemimpinan inklusif,
INKLUSIFA berkomitmen menghadirkan berbagai perspektif dan cerita dari masyarakat, organisasi, dunia usaha, pemerintah, komunitas, serta para pemimpin perubahan.
INKLUSIFA adalah hasil rebranding dari media Existensil yang sebelumnya menghadapi serangan digital dan pengambilalihan paksa akun Instagramnya. Hal ini menjadi momentum evaluasi dan perbaikan menejemen kearah yang lebih baik.
(rdp/imk)











































