Mbah diyakini sebagai amir atau pemimpin darurat organisasi tersebut sejak 2004. Dia membawahi 4 sayap, salah satunya sayap militer yang dikomandani Abu Dujana.
Itulah sebabnya, penangkapan Mbah disebut-sebut penangkapan terbesar. Pria berusia 54 tahun itu dibekuk di tempat yang tidak jauh dari rumahnya di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, pada 9 Juni 2007 lalu. Dia tertangkap 6 jam setelah Abu Dujana.
Pengamatan detikcom di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (17/12/2007), pukul 10.15 WIB, Mbah tampak berada di dalam sel menunggu sidang.
Dengan mengenakan baju koko putih dan berpeci hitam, Mbah tampak berbincang dengan 4 orang tersangka lainnya, Aris Widodo alias Tri, Taufik Masduki alias Abu Khotib, Aziz Mustofa alias Ari, dan Nur Afifuddin alias Suharto.
Ada lagi 1 terdakwa yakni Arif Syafuddin alias Tsaqof. Arif disidangkan bersama Abu Dujana pada Rabu, 12 Desember 2007 dan hari ini akan membacakan eksepsi.
Mereka menutupi pintu sel dengan kertas koran saat para wartawan mengambil gambar. "Sorry, ya," kata seorang terdakwa sambil membentangkan koran itu rapat-rapat.
Bersama Abu Dujana, Mbah diduga terlibat serangkaian peledakan bom di Indonesia pasca bom Bali I tahun 2002.
Dia juga terlibat dalam pengiriman dan pengaturan bahan peledak dan senjata api dari pulau Jawa ke Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), dan sebaliknya. Untuk peledakan bom di daerah itu, Mbah juga menerima uang hasil rampokan milik Pemkab Poso sebesar Rp 400 juta.
Kepolisian mencatat, Mbah pernah mengikuti pelatihan militer di kamp Saddah, Pakistan, pada 1997. Tahun berikutnya ia menjadi instruktur di kamp Militer Mindanao, Filipina.
Selain itu, Mbah juga menjadi penghubung pendanaan JI di Mindanao dan menghimpun dana untuk latihan perang di kawasan Gunung Sumbing, Jawa Tengah. (irw/nrl)











































