Supriyanto Rela Mendonorkan Darahnya untuk Korban Kecelakaan

Sopir Heroik (4)

Supriyanto Rela Mendonorkan Darahnya untuk Korban Kecelakaan

- detikNews
Senin, 17 Des 2007 10:43 WIB
Supriyanto Rela Mendonorkan Darahnya untuk Korban Kecelakaan
Bogor - Kerumunan orang berdiri memblokir jalan di daerah transmigrasi di sekitar Samarinda, Kalimantan Timur. Suasana begitu mencekam. Namun Supriyanto (37) harus menghentikan kendaraannya.

Jalan itu dikelilingi pohon karet dan waktunya menjelang tengah malam. Horor memang. Taksi Mawar yang dikemudikan Supriyanto sebenarnya hendak kembali ke poolnya. Namun distop sedemikian rupa, akhirnya Supriyanto meminggirkan kendaraannya.

Ternyata keputusan Supriyanto tidak salah. Orang-orang tersebut adalah penduduk sekitar yang meminta tolong, sebab ada seorang pengendara motor yang mengalami kecelakaan.

"Saya berani stop sebab di antara 7-8 orang itu, ada perempuannya. Terus ada juga yang pakai sarung," jelasnya saat dijumpai detikcom di sela-sela penjurian acara Sopir Heroik di Bogor, Jawa Barat, Kamis 13 Desember 2007. Perhelatan sopir heroik ini digelar oleh Goodyear Indonesia.

Saat ditemukan, pria korban kecelakaan itu sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Warga pun tidak ada yang tahu kejadiannya. Mereka hanya mendengar suara keras, lalu tahu-tahu pria itu sudah terkapar dengan kondisi kepala mengeluarkan darah.

Tidak ada yang bersedia ikut bersama Supriyanto ke RS untuk menjadi saksi. Supriyanto takut dirinya dituduh macam-macam bila dirinya hanya berdua saja dengan korban ke RS.

"Kita semua mau menjadi saksi, yang penting selamatkan orang ini dulu," kata warga seperti ditirukan Supriyanto.

Akhirnya Supriyanto bersedia mengantar pria itu ke rumah sakit. Pertimbangannya, korban butuh pertolongan segera karena kondisinya yang kian melemah.

Setelah menempuh perjalanan 1 jam, Supriyanto akhirnya tiba di RS di Samarinda. Tapi RS minta ada yang menjadi penjamin. Akhirnya Supriyanto rela menjadi penjamin dan mengeluarkan uang agar RS mau segera menangani pria malang itu.

"Saya bayar Rp 300 ribu untuk menjamin," kisahnya.

Dalam kondisi yang juga lelah karena habis bekerja seharian, Supriyanto masih harus direpotkan oleh 'kliennya' itu. Dokter menyuruh pria asli Blitar ini pergi ke PMI mencari darah untuk transfusi korban.

Entah karena jodoh atau takdir, ternyata darah yang dibutuhkan korban sama dengan golongan darah Supriyanto. "Ya sudah, darah saya saja ambil, daripada harus ngambil ke PMI," ujarnya.

Setelah mendonorkan darahnya, Supriyanto akhirnya memilih untuk pulang ke pool-nya. Tidak lupa sebelum pulang, dia menitipkan nomor ponselnya pada RS agar bisa menghubunginya bila terjadi apa-apa terhadap korban.

"Selama itu pikiran saya nggak tenang. Bukan karena uang, tapi gimana keadaan orang ini," kenangnya.

Tidak ada telepon dari RS soal kondisi 'saudara sedarah' Supriyanto. Tapi setelah beberapa minggu, dia menerima telepon dari orang tersebut.

"Setelah beberapa minggu sudah sehat, dia menghubungi saya. Dia mengucapkan terima kasih," terangnya.

Tidak ada rencana muluk di kepala Supriyanto apabila terpilih sebagai Sopir Heroik. Ia hanya memikirkan istri dan seorang anaknya.

"Ada semacam kesenangan kalau bisa menolong orang. Kalau soal hadiah, itu nanti untuk keluarga," katanya.

Senang menolong orang membawa Supriyanto terpilih menjadi satu dari tiga runner up Sopir Heroik dalam penganugerahan hadiah yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, Sabtu 15 Desember 2007.

Uang tunai Rp 3 juta dan peralatan elektronik senilai Rp 1 juta dikantonginya. Keluarga Supriyanto tentunya bersukacita.

Supriyanto menjadi contoh tidak semua sopir angkutan umum bercitra buruk. Lalu siapa sopir heroik versi Anda? (gah/sss)


Berita Terkait