Afrizal Bantu Kelahiran di Atas Bus yang Sedang Melaju

Sopir Heroik (3)

Afrizal Bantu Kelahiran di Atas Bus yang Sedang Melaju

- detikNews
Senin, 17 Des 2007 09:52 WIB
Afrizal Bantu Kelahiran di Atas Bus yang Sedang Melaju
Bogor - Waduh! Ada perempuan sudah mau melahirkan di dalam bus yang sedang. Bahkan kepala si jabang bayi sudah kelihatan menyeruak dari mulut rahim dari ibunya. Afrizal (43) harus mengambil tindakan.

Perempuan yang naik bus Safari Dharma Raya dari Jakarta ke Bima itu rupanya sudah tidak bisa lagi menahan lagi kelahiran anak pertamanya. Dia tergolek lemah tanpa ditemani sanak keluarga di lantai bagian belakang bus dengan kondisi lemas karena pendarahan.

Terdorong naluri kemanusiaannya, akhirnya Afrizal, sang sopir bus, segera berinisiatif menolong. Ia menutupi tubuh perempuan itu dengan selimut sambil terus memberinya bantuan semangat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu posisi bus sudah di Pekalongan. Saya bangunin sopir teman saya untuk cari bidan sampai ketemu," kisahnya kepada detikcom di sela-sela penjurian acara Sopir Heroik di Bogor, Jawa Barat, Kamis 13 Desember 2007. Perhelatan sopir heroik ini digelar oleh Goodyear Indonesia.

Di dalam bus sebenarnya ada dua perempuan lainnya, satu masih anak-anak, sedangkan satunya lagi bersama suaminya. Namun perempuan yang sudah berpengalaman melahirkan itu tidak mau membantu persalinan kaumnya sendiri. Dia hanya memberikan instruksi kepada Afrizal.

"Kata dia, usap kemaluannya. Ya sudah saya usap-usap terus. Lalu saya terus minta si ibu mendorong bayinya agar keluar. Ambil napas, dorong, terus begitu," kenangnya.

Tidak ada pertimbangan macam-macam saat Afrizal membantu persalinan perempuan itu. Di dalam kepala ayah dua anak ini, yang ada hanyalah bagaimana caranya menolong.

"Saat nolong, nggak kepikiran apa-apa. Spontan aja," katanya.

Pertolongan Afrizal berhasil! Sang bayi bisa keluar dari rahim ibunya. Namun sayang beribu sayang, nyawa sang bayi tidak bisa diselamatkan.

"Dia meninggal. Pas keluar nggak nangis. Terus saya cek nadi di tangannya juga tidak berdenyut," terangnya.

Setelah sampai di tempat bidan sekitar pukul 02.00 WIB, akhirnya si ibu bisa mendapatkan perawatan medis. Tali pusar jenazah bayi sudah diputuskan.

Tapi rupanya permasalahan tidak berakhir sampai di situ. Saat jenazah bayi hendak dikuburkan di desa tempat bidan itu, kepala desa setempat menolaknya. Pak Kades meminta uang Rp 1,5 juta bila bayi malang itu dikuburkan di desanya.

"Kalau nggak bayar, dibawa saja," begitu kata Pak Kades seperti ditirukan Afrizal.

Tidak ada pilihan lain, Afrizal pun harus merogoh koceknya. Sebab ibu malang itu hanya punya uang Rp 35 ribu.

"Rp 700 ribu dari uang jalan. Saweran dari 22 penumpang Rp 315 ribu. Uang pribadi saya Rp 200 ribu, kenek Rp 200 ribu. Masih kurang, terus saya minta tambahan sama sopir ganti saya Rp 100 ribu," urainya.

Setelah dibayar, akhirnya Pak Kades mengizinkan jenazah bayi yang belum diberi nama itu dikubur di desanya. Seluruh penumpang bus pun menghadiri acara pemakamannya.

Perjalanan lalu dilanjutkan tanpa ibu malang itu. Afrizal membekalinya dengan uang Rp 100 ribu, pemberian salah seorang penumpang. Kontak dengan keluarganya pun sudah dilakukan.

Saat tiba di Pelabuhan Tano, Sumbawa Barat, NTB, Afrizal bertemu dengan orang tua ibu itu. Orang tuanya lalu memberi uang ganti Rp 1,2 juta.

"Saya terima saja walaupun sebenarnya kurang. Ikhlasin saja," kata Afrizal yang mengaku perjalanannya terlambat 7 jam akibat kejadian itu.

Afrizal tidak tahu kalau ajang pencarian Sopir Heroik menjanjikan hadiah sejumlah uang. Tapi bila menang, ia berencana akan menggunakannya untuk membayar utang ibunya yang kini sudah meninggal dan membayar uang gedung sekolah anaknya.

"Waktu ibu sakit pernah pinjam uang Rp 4 juta sama adik mertua saya. Saya harus bayar utang ibu saya. Terus yang kedua untuk uang gedung sekolah anak Rp 700 ribu," harapnya.

Pada Sabtu 15 Desember 2007, Afrizal bisa tersenyum lebar. Dia terpilih menjadi satu dari tiga runner up Sopir Heroik dalam penganugerahan hadiah yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat.

Uang tunai Rp 3 juta dan peralatan elektronik senilai Rp 1 juta dikantonginya. Harapan Afrizal beban utangnya menjadi lebih ringan terkabulkan.

Afrizal menjadi contoh tidak semua sopir angkutan umum tak mempedulikan keselamatan penumpangnya. Lalu siapa sopir heroik versi Anda? (gah/sss)


Berita Terkait