Saat Rahman memacu taksinya di daerah Cakung, samar-samar di balik hujan terlihat lambaian orang dari seberang jalan. Rahman pun memutar mobilnya karena dia yakin kalau orang itu membutuhkan jasanya.
Begitu pintu taksi terbuka, 2 perempuan masuk dengan terburu-buru. Salah satunya tengah hamil tua dan dalam kondisi hendak melahirkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke bidan, Pak," kata perempuan yang tidak hamil.
Rahman lalu menekan pedal gas mobil dalam-dalam mencari bidan terdekat. Selama perjalanan, situasi di dalam taksi sangat menegangkan. Perempuan yang sedang hamil tak henti-hentinya berteriak, menangis, dan menahan sakit di perutnya.
Ciiitt... Akhirnya taksi sampai di rumah ibu bidan. Tetapi terlambat! Kepala bayi sudah keluar dari mulut rahim sang ibu.
Tergopoh-gopoh, Rahman masuk ke klinik mencari bidan. Ia sempat diacungi pisau oleh ibu bidan karena telah masuk sampai rumah pribadinya yang kebetulan berada di belakang klinik. Beruntung, ibu bidan mengerti setelah Rahman menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam taksinya.
Di kursi bagian belakang taksi, keadaan kacau karena belepotan darah hingga tercium bau anyir. Ibu bidan memutuskan untuk membantu proses persalinan di dalam taksi karena sudah tidak mungkin membawa ibunya ke dalam klinik.
Rahman berada di dalam taksi selama proses persalinan. Sementara, teman si wanita hamil malah menunggu di luar taksi.
"Allahu akbar!" Suara takbir menggema dalam taksi seiring kelahiran sang bayi dengan selamat.
"Pak, terima kasih atas bantuannya. Semenit lagi Bapak nggak bantu, bayi ini bisa mati," kata ibu bidan kepada Rahman.
Setelah persalinan selesai, Rahman masih harus mengazani bayi. Kelar semuanya, Sopir Royal City Taxi ini terduduk lemas seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
"Kayak sadar nggak sadar. Saya akhirnya dikasih air putih sama bu bidan sambil bilang alhamdulillah bayinya selamat," tuturnya.
Diberi uang 'hanya' Rp 20.000 oleh ibu bidan, Rahman tidak menolaknya. Ayah 4 anak ini hanya berniat menolong, meskipun sebenarnya dia berhak mendapatkan lebih. Apalagi dia juga harus membersihkan bekas darah dan sisa persalinan di jok belakangnya.
"Nggak tega. Lha wong setoran juga sudah ada," katanya.
Cerita Abdul Rahman dan ibu melahirkan tidak berhenti sampai di situ. Pada September 2007, ia kembali harus berhadapan dengan penumpang perempuan yang juga mau melahirkan.
Saat itu, seperti biasa, Rahman berkeliling Jakarta mencari penumpang. Ketika tiba di daerah Mangga Dua, Jakarta Pusat, seseorang pria menyetopnya.
Pria itu bersama istrinya yang sedang hamil tua minta diantar ke RS Koja untuk bersalin. Tetapi niat sang suami terkendala masalah biaya karena belum ada persiapan untuk proses persalinan.
Hati nurani Rahman tergerak. Rahman merujuk pasangan itu ke puskesmas tempat dia biasa berobat di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, yang kebetulan bisa membantu persalinan dengan biaya yang terjangkau.
"Saya akan bilang ini adik saya," katanya.
Waktu sang suami bilang belum ada persiapan, rupanya itu dikatakan dengan sungguh-sungguh. Dia juga tidak membawa perlengkapan bayi maupun baju ganti istrinya.
"Saya lalu telepon istri saya supaya bawain popoknya, kemulnya, jarik, daster, dan kemben," kisah Rahman.
Kelahiran berjalan lancar. Rahman diberi kehormatan untuk kembali mengazani anak orang lain.
Rahman lalu meninggalkan pasutri itu di puskesmas untuk mengejar setoran. Tapi tidak lupa, dia menawarkan bantuan dana bila pasutri itu membutuhkan biaya untuk keluar puskesmas.
Setelah beberapa waktu, Rahman mengecek tempat tinggal pasutri itu di Mangga Dua. Dari situ diketahui, sang suami bekerja sebagai sopir bajaj.
Sedangkan sang istri sewaktu melahirkan, baru 4 hari sampai di Jakarta dari daerah setelah syukuran 7 bulanan. Bayinya pun ternyata lahir prematur. Tidak heran saat itu belum ada persiapan biaya.
"Kata orang tua saya, sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi manusia lain," jelas dia saat ditanya kenapa mau melakukan semua kebaikan ini.
Bila menang dalam audisi Sopir Heroik, Rahman punya keinginan untuk membahagiakan orang lain, bukan dirinya sendiri. "Seandainya dapat hadiah, akan berbagi ke tempat yatim piatu. Kalau lebih, bisa berkurban kambing untuk yang pertama kali buat istri saya," katanya.
Niat tulus Rahman pun berbuah kemenangan pada Sabtu 15 Desember 2007. Dia dinobatkan menjadi jawara Sopir Heroik.
Hadiah uang tunai Rp 10 juta dan peralatan elektronik senilai Rp 3 juta menjadi miliknya dalam penganugerahan hadiah yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat.
Bisa dibayangkan senyum yang terukir di wajah anak-anak yatim piatu dan istri Rahman saat menerima ucapan syukur Rahman.
Rahman tentu menjadi contoh tidak semua sopir angkutan umum bertingkah seenak-enaknya. Lalu siapa sopir heroik versi Anda? (gah/sss)











































