Bawa Perempuan Hamil, Berakting Sebagai Suami

Kisah Sopir Heroik

Bawa Perempuan Hamil, Berakting Sebagai Suami

- detikNews
Minggu, 16 Des 2007 08:06 WIB
Bogor - Seperti biasa, Edward Ujang, ngetem di Mal Palembang Square untuk mencari penumpang. Sopir Taksi Kotas ini tidak menyangka pada suatu hari di akhir tahun 2005 itu, ia akan menyelamatkan nyawa orang lain.
 
Saat berleha-leha menunggu penumpang di dalam taksinya, tiba-tiba Ujang dikejutkan oleh seorang perempuan yang masuk ke dalam mobilnya. Perempuan itu sendirian tanpa ditemani seorang pun. Sambil meringis perempuan itu terus memegangi perutnya yang hamil tua.  
 
Ujang mengira perempuan itu sebentar lagi akan melahirkan. Dan dugaannya itu benar!  Tanpa banyak tanya, Ujang menyetir mobilnya menuju RS Caritas. Namun ketika sampai di RS itu, timbul masalah lain.
 
"Bang tolong pura-pura jadi suami saya ya," kata Ujang menirukan permintaan perempuan itu.
 
Kepanikan melanda pria berumur 34 tahun itu, bingung hendak berbuat apa. Setelah menimbang-nimbang, Ujang memutuskan untuk meluluskan permintaannya.
 
"Akhirnya mau nggak mau. Nolong dululah," kisah Ujang kepada detikcom di sela-sela penjurian Sopir Heroik, Bogor, Kamis (13/12/2007).
 
Konsekuensinya, Ujang harus merogoh koceknya dalam-dalam untuk jaminan perawatan dokter. Uang Rp 300 ribu harus Ujang relakan untuk menolong 'istrinya' itu.
 
Selama proses menunggu persalinan, perempuan itu menceritakan tentang dirinya. Dia adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Palembang. Anak yang dikandungnya adalah buah dari benih pacarnya. Sayangnya, pacarnya itu tidak bertanggung jawab dan memilih untuk kabur.
 
Puji syukur persalinan berjalan lancar, bayi dan ibunya selamat dan dalam keadaan sehat wal afiat. Setelah 3 hari kondisi mereka kian bagus dan akhirnya diperbolehkan pulang.
 
Uang terakhir kali berkomunikasi dengan perempuan itu pada 3-4 minggu setelah kejadian. Bayi laki-laki yang kelahirannya dibantu Ujang kondisinya baik-baik saja.
 
Tidak ada alasan khusus bagi Ujang untuk menolong. Ia tidak memikirkan bila kepura-puraannya itu dapat menimbulkan fitnah bila dilihat kenalannya. "Lihat begitu, refleks aja nolong," katanya polos.
 
Bapak satu anak ini juga belum mempunyai rencana apabila dia terpilih menjadi Sopir Heroik. Bagi dia, pelajaran hidup itu lebih berharga.
 
"Kita dapat pelajaran yang luas. Bisa berbagi cerita dengan orang lain," ucapnya. (gah/aba)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads