"Kami akan terus bergerak maju dan bergabung dalam konsensus dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ini, meski ini memiliki syarat-syarat komitmen dari negara-negara berkembang," kata Dobriansky saat berbicara di sidang pleno di Plennary Hall Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Sabtu (15/12/2007).
Ucapan Dobriansky ini langsung disambar oleh para peserta konferensi dengan memberikan tepuk tangan panjang. "Kami sangat menghargai komitmen yang ditunjukkan negara-negara berkembang, terutama yang ekonominya berkembang pesat. Kita juga ingin menghasilkan roadmap untuk berkomitmen mereduksi emisi sesuai dengan target 2050," kata dia.
"Kami sudah datang jauh-jauh dan ingin meyakinkan semuanya bahwa ikut konsensus yang dihasilkan hari ini," tambah Dobriansky. Lagi-lagi Dobriansky mendapat standing applause yang meriah.
Sebelum Dobriansky memutuskan untuk menerima konsensus, para delegasi dari sejumlah negara menyinggung sikap AS yang keras kepala. Sikap AS yang tidak kompromistis dianggap sebagai batu yang mengganjal terciptanya konsensus perubahan iklim dalam konferensi ini.
"Apa yang tidak disetujui AS terhadap negara berkembang adalah sesuatu hal yang tidak berdasar. Kami minta AS untuk lebih berkomitmen dalam hal ini," ujar delegasi dari Afrika Selatan.
Protes terhadap AS juga datang dari delegasi Brazil, Maladewa, Papua Nuigini, dan lain-lain. Bahkan delegasi dari Papua Nuigini sempat menyindir PBB. "Kita percaya PBB bisa memimpin. Tapi, kalau tidak bisa memimpin, PBB minggir saja," kata dia.
Hingga pukul 14.45 Wita, sidang masih berlangsung. Sejak sidang dibuka pukul 11.00 Wita, belum ada agenda untuk makan siang. (asy/djo)











































