Demikian disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berpidato tanpa tek dalam acara pencanangan Hutan Kemasyarakatan di Kepek, Banyusoco, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (15/12/2007).
Dikatakan Kalla, pada tahun 1970 hingga 1980-an banyak pengusaha hutan yang dianggap berjasa pada negara. Mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah karena membayar pajak dalam jumlah besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Merekalah yang paling depan duduknya kalau ada acara-acara. Artinya semakin banyak menebang, semakin terhormat," ujar Kalla.
Sedangkan dari lembaga pemerintah yang paling dihormati adalah Departemen Kehutanan. Hal ini ditandai dengan kantor Departemen Kehutanan yang sangat besar. Departemen ini dianggap sebagai penyumbang terbesar kepada negara.
"Namun sekarang sudah berubah. Ternyata yang kita hargai dan kita hormati saat itu dapat kita lihat hasilnya sekarang, yakni bencana banjir dan kekeringan.
Artinya merusak kehidupan kita," ungkap Kalla.
Dalam kesempatan itu, Kalla juga menyinggung konferensi perubahan iklim (climate change) yang sedang berlangsung di Bali. Dalam konferensi itu, kata Kalla, Indonesia diminta memberikan sumbangan terhadap perbaikan iklim dunia, salah satunya dengan cara memperbaiki hutan.
Menurut Kalla, hal itu tidak bisa dilakukan oleh Indonesia sendiri. Negara-negara maju di dunia, seperti Amerika Serikat, harus ikut bertanggung jawab dalam kerusakan hutan Indonesia.
"Saya katakan hutan kita yang merusak adalah anda (negara maju) sekalian. Andalah yang membawa segala alat untuk menebang pohon, dan anda juga yang membeli kayu-kayu itu. Namun kenapa, anda merasa tidak bersalah? Karena itu, kalau ingin hutan kita baik, anda juga harus mendukung perbaikan itu," tutur Kalla. (djo/asy)











































