Banjir Jakarta, Dari Masa ke Masa

Banjir Jakarta, Dari Masa ke Masa

- detikNews
Kamis, 13 Des 2007 21:19 WIB
Jakarta - Berbicara mengenai banjir di Jakarta memang relevan sampai kapan pun. Dari tahun ke tahun kecenderungan banjir terus meningkat. Wilayahnya pun terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya pohon beton di ibukota negeri ini.

Mungkin tidak banyak orang tahu, ternyata banjir di Jakarta telah terjadi sejak kota ini masih bernama Batavia, tepatnya pada tahun 1621 lalu. Banjir besar serupa juga terjadi pada tahun 1654 dan 1876.

"Pada saat itu, banjir besar terjadi hingga pada akhirnya pemerintah Belanda membangun Bendungan Hilir, Jago dan Udik. Sementara pada tahun 1922 pemerintah kolonial membangun Banjir Kanal Barat dari pintu air Manggarai sampai Muara Angke," ujar Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, Iwan Nursyirwan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut ia sampaikan dalam jumpa pers bertem upaya non-structural penanggulangan banjir di Jakarta di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/12/2007).

Iwan menceritakan, pada 1 Februari 1976, Jakarta diguyur hujan deras selama tiga hari berturut-turut. "Lebih dari 200.000 jiwa diungsikan. Jakarta Pusat terkena dampak yang paling parah," kata Iwan.

Sementara banjir sangat besar juga terjadi pada tahun 2002 lalu. Lebih dari 40.000 jiwa mengungsi. Tercatat dua orang tewas dalam musibah banjir ini.

"Pada 2-4 Februari 2007 ibukota dalam kondisi darurat. Banjir menggenangi sekitar 60 persen wilayah Jakarta, 150.000 jiwa mengungsi, 1.379 gardu induk terganggu, 420 pelanggan listrik juga terganggu," tutur Iwan.

Dari sekian banyak rangkaian banjir tersebut, menurut Iwan, penyebabnya ada tiga hal, yakni kondisi alam statis, peristiwa alam dinamis, sementara kegiatan manusia terus meningkat yang pada akhirnya merusak alam. Banjir pun tak terhindarkan.

Sementara, untuk meminimalisr terjadinya banjir di Jakarta, lanjut Iwan, ada tiga hal yang perlu dilakukan dari seg non structural, yakni melakukan pemetaan tentang bahaya banjir, strategi komunikasi, dan mengikutsertakan masyarakat dalam upaya penanggulangan banjir.

"Diperlukan sekelompok masyarakat yang mau secara sukarela turut merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaanrisiko bencana banjir secara berkelanjutan," jelas Iwan.

Jika hak-hal tersebut dilaksanakan, Iwan optimis, banjir di Jakarta akan dapat berkurang. (anw/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads