Proyek pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi listrik (PSEL) dan teknologi pirolisis resmi dimulai di kawasan TPAS Galuga, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Dua tempat ini nantinya akan mengolah 2.500 ton sampah per hari dari Kota dan Kabupaten Bogor.
Menteri Koordinator Bidang (Menko) Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan pembangunan PSEL di Bogor menjadi proyek keempat. Pembangunan akan dilanjutkan hingga 24 titik PSEL pada 2027.
"Ini untuk yang ke-4 kali ya kita groundbreaking. Pertama di Bali, kedua di Legok Nangka (Bandung), ketiga Kota Bekasi, keempat di sini, Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, empat ya. Ini kita perkirakan akan selesai di 2027," kata Zulhas di Lokasi Proyek PSEL Bogor Raya 1 Kampung Galuga Kaum, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan groundbreaking proyek PSEL akan berlanjut. Tahun depan ditargetkan ada 24 proyek PSEL.
"Kita terus, ada soal lahan, soal kerja sama, dan lain-lain kita secara maraton agar ini cepat-cepat selesai," sambungnya.
Zulhas menyebut 1.500 ton sampah baru dari Kota dan Kabupaten Bogor akan diolah menjadi listrik setiap hari. Sedangkan lokasi pengolahan sampah menjadi BBM akan mengolah 1.000 ton sampah plastik yang sudah ada di TPAS Galuga.
Zulhas menyebut 1.500 ton sampah baru dari Kota dan Kabupaten Bogor akan diolah menjadi listrik setiap hari. Sementara, 1.000 ton sampah plastik akan diolah menjadi BBM (M Sholihin/detikcom) |
"Jadi ada pengolahan sampah yang baru, ada yang lama, ada dua. Ini yang (sampah) baru, yang baru datang diselesaikan melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik. Yang satu lagi, sampah yang sudah ada (di TPAS Galuga), diolah lagi pirolisis menjadi solar," kata Zulhas.
Proyek pembangunan PSEL dan Pirolisis dimulai dengan peletakan batu pertama oleh pejabat yang hadir. Kegiatan tersebut dihadiri Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup (LH) dan Kepala BPLH M. Zumhur Hidayat, dan Kepala BAPPISUS Aries Marsudiyanto.
Hadir pula Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq, Wamendagri Bima Arya Sugiarto, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, serta perwakilan PT PLN dan Danantara.
Zulhas mengatakan nantinya tidak ada lagi pengelolaan sampah metode ditumpuk di TPAS atau sistem open dumping. Zulhas bahkan menyebut pelakunya terancam pidana.
"Kalau ini (TPAS Galuga) nggak ada lagi, nanti habis, hilang. Open dumping sudah nggak boleh lagi. Oleh karena itu, bupati, wali kota, kalau masih open dumping bisa terkena masalah, karena undang-undangnya sudah melarang. Buang sampah terbuka begitu sudah nggak boleh lagi," kata Zulhas.











































