Bukan Superman, Penanganan TBC di Indonesia Butuh Sinergi "Super Team"

Bukan Superman, Penanganan TBC di Indonesia Butuh Sinergi "Super Team"

Angelina Vioni - detikNews
Kamis, 17 Sep 2026 12:50 WIB
Wamendagri Wiyagus Dorong Percepatan Desa & Kelurahan Siaga TBC di Riau
Foto: Kemendagri
Jakarta -

Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia tidak bisa lagi diselesaikan secara ego-sektoral. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa pemerintah tidak membutuhkan pahlawan tunggal, melainkan sinergi kuat dari sebuah "Super Team" untuk memberantas penyakit tersebut.

"Kita tidak butuh superman, ya. Kita butuhnya super team," tegas Wiyagus saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di RSUP Dr. Kariadi, Kota Semarang, pada hari Rabu (16/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehadiran Super Team ini dinilai sangat krusial mengingat ancaman TBC bukan sekadar masalah kesehatan medis. Penyakit ini memiliki efek domino yang mampu melumpuhkan produktivitas, mengganggu roda perekonomian, hingga meningkatkan risiko kemiskinan dan pengangguran. Wiyagus menjelaskan bahwa masa pengobatan bagi pasien suspek TBC bisa memakan waktu hingga enam bulan. Akibat lamanya waktu pengobatan ini, hampir 26 persen pasien terpaksa kehilangan pekerjaan atau harus berhenti bekerja untuk sementara waktu.

Sebagai cetak biru pembentukan Super Team ini, Wiyagus mengingatkan kembali pada kesuksesan kolaborasi pemerintah dan tenaga kesehatan saat menghadapi krisis pandemi COVID-19. Pola kerja sama lintas batas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda) tersebut harus direplikasi dan diterapkan secara serius dalam mengeliminasi TBC.

ADVERTISEMENT

Untuk memastikan Super Team ini bekerja hingga ke akar rumput, pemerintah juga terus mengoptimalkan sistem Desa Siaga, yaitu program pemberdayaan masyarakat desa untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Kehadiran Desa Siaga ini bukan sekadar sebutan, melainkan didukung penuh oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga kementerian sekaligus: Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Desa. Sebagai percontohan, Kota Semarang saat ini telah memiliki cakupan Desa Siaga hingga hampir 92 persen.

Menutup arahannya, Wiyagus mengingatkan bahwa langkah koordinasi antara pusat dan daerah harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang menyentuh langsung ke masyarakat. Ia mendorong seluruh pihak yang tergabung dalam Super Team penanggulangan TBC ini agar tidak berhenti pada kegiatan yang hanya bersifat seremonial, melainkan benar-benar beraksi nyata di lapangan demi masa depan kesehatan Indonesia yang lebih baik.

(akn/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini