"Pemilih di Indonesia masih menggunakan metode split ticket voting, alias memilih objek yang berbeda dibanding pemilu legislatif," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari.
Hal ini disampaikan dia dalam jumpa pers "Evaluasi kinerja SBY-JK dan split ticket voting 2009" di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (13/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan survei yang dilakukan lembaganya pada 28 November-7 Desember 2007 terhadap 1.200 responden, PDIP unggul dengan 25,3 persen suara dalam pemilu legislatif. Disusul Golkar dengan 18 persen dan Partai Demokrat sebesar 13,8 persen.
"Jika dilihat dari partai, seharusnya Megawati lebih unggul untuk pilpres. Tapi tidak demikian. SBY masih mengungguli Megawati dengan perolehan suara 38,1 persen. Sedangkan Megawati hanya memperoleh suara 27,4 persen," tutur Qodari.
Dijelaskan dia, alasan masyarakat banyak yang melakukan split ticket voting karena sebanyak 65 persen responden menilai partai tidak representatif terhadap aspirasi pemilih.
Karena itu, menurut Qodari, partai tidak berani menampilkan wajah baru dalam pilpres, sebab kecondongan masyarakat lebih memilih figur.
"Kalau di Amerika, siapa pun calonnya, diusung Partai Demokrat atau Republik, maka pemilih akan mengikuti siapa pun orangnya," jelas dia. (nik/sss)











































