Analisis Pakar soal 'Segitiga Bermuda' Masalembo Lokasi KM Virgo, Bukan Mistis

Analisis Pakar soal 'Segitiga Bermuda' Masalembo Lokasi KM Virgo, Bukan Mistis

Tim detikJatim - detikNews
Rabu, 16 Sep 2026 16:41 WIB
Perairan Masalembo di Laut Jawa.
Perairan Masalembo di Laut Jawa. (Google Maps)
Surabaya -

Kapal motor (KM) Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, perairan yang sering dihubungkan dengan cerita mistis hingga dijuluki sebagai 'Segitiga Bermuda Indonesia'. Pakar menegaskan tingginya risiko pelayaran di kawasan ini bisa dijelaskan secara logis melalui kondisi laut dan cuaca yang sangat dinamis.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr Daryono, memaparkan bahwa Masalembo bukanlah wilayah makhluk halus atau kawasan misterius, yang secara otomatis 'menarik' kapal hingga tenggelam.

"Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam. Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi," ujar Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima detikJatim, Rabu (16/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalembo, kata Daryono, berada di posisi yang sangat strategis karena diapit oleh Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan jalur 'tol air' utama yang mengalirkan massa air berarus deras dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

ADVERTISEMENT

Bayangkan kawasan ini seperti persimpangan jalan raya yang sangat padat. Perbedaan suhu, kadar garam (salinitas), hingga kedalaman air laut di sana menciptakan pergerakan arus yang sangat kompleks.

"Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan bisa menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses tersebut dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal. Namun fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali," jelas Daryono.

Bahaya Gelombang Silang dan Badai Mendadak

Selain arus laut, faktor cuaca di Masalembo juga sangat memengaruhi keselamatan pelayaran. Karena dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun Asia-Australia, arah dan kecepatan angin di Masalembo bisa berubah-ubah.

Kondisi ini kerap memicu fenomena cross-sea atau gelombang silang, yaitu situasi ketika dua atau lebih sistem gelombang dari arah berbeda bertemu dan saling bertabrakan di satu titik. Bagi kapal, hantaman gelombang dari berbagai arah ini bagaikan dikocok dari samping kiri-kanan (rolling) sekaligus depan-belakang (pitching).

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal," katanya.

Di sisi lain, laut Masalembo yang hangat juga sangat disukai oleh pembentukan awan badai raksasa (kumulonimbus). Awan ini bisa menyemburkan angin kencang secara mendadak (gust front) dan mengacaukan kondisi laut dalam waktu singkat.

"Ketika awan kumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Embusan angin yang berubah cepat bisa menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat. Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal," kata Daryono.

Baca selengkapnya di sini

Tonton juga video "Tangis Istri Hamil 6 Bulan Sambut Jenazah ABK KM Virgo"

(idh/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini