Lapor Polisi Berujung Halusinasi

Penculikan Gadis Sukabumi (2)

Lapor Polisi Berujung Halusinasi

- detikNews
Kamis, 13 Des 2007 13:33 WIB
Jakarta - Gadis itu menangis dan kemudian pingsan. Polisi menudingnya telah berbohong dengan mengarang cerita menjadi korban penculikan. Laporan si gadis bahwa ia bersama 6 orang lainnya diculik  oleh sejumlah laki-laki dengan mobil APV, disebut polisi, hanyalah karangan belaka.
 
Gadis yang pingsan dan dituduh polisi berbohong itu bernama Ai Syamsiah. Usianya masih 14 tahun, ia baru kelas dua SMP. Ia dari keluarga jelata, untuk sekolah saja ia hanya memiliki satu stel pakaian. Seragam ini selalu dicucinya setelah pulang sekolah untuk kemudian dipakai lagi keesokan harinya.
 
Awalnya tidak ada yang istimewa dari kehidupan Ai. Di tengah kesulitan ekonomi keluarganya, Ai menjalani hari dengan biasa-biasa saja. Ia ke sekolah dengan Rp 3.500 sebagai bekal. Untuk berhemat, ia diantar kakaknya dengan motor. Maklum Acun Mansyur, ayah Ai hanyalah seorang petugas perpustakaan di kotamadya Sukabumi.
 
Tapi pada 27 November, hidup Ai sontak berubah. Gadis dari Kampung Serpe RT 02/RW 07 Desa Mangunjaya itu dibawa kawanan penculik. Sang penculik yang membawa mobil APV warna hitam membekap Ai saat gadis itu di pinggir jalan seberang sekolahnya, SMP 1 Warungkiara, Sukabumi.
 
Menurut Ai, di dalam mobil APV warna hitam yang membawanya, tersebut juga terdapat enam pelajar lainnya (tiga laki-laki dan tiga perempuan),  dalam keadaan tak sadarkan diri akibat obat bius. Untungnya kemudian Ai  berhasil meloloskan diri.
 
Tapi rupanya lolos dari penculik, baru merupakan satu babak dari drama yang harus dilewati Ai. Lolos dari penculik, gadis 14 tahun itu harus berhadapan dengan polisi. Ai harus menjalani pemeriksaan selama lima jam gara-gara laporan penculikan yang dialaminya.
 
Dalam pemeriksaan berjam-jam itu, gadis kecil itu tidak ditemani pengacara. Komnas Perlindungan Anak pun tidak diikutsertakan. Ai hanya ditemani ibunya, Ebah. Acon, pamannya yang sempat mengantar Ai untuk pemeriksaan tidak diperbolehkan masuk.
 
Akhirnya selama berjam-jam, gadis kecil itu harus meladeni intrograsi dari wakapolres Sukabumi Kompol Harry dan Kasat Reskrim Akp Jajang Tariadi dan Polwan Vera. Di ruangan itu juga masih ada juru ketik dari polsek bernama Eko.
 
Setelah lima jam pemeriksaan itu, tiba-tiba kasus penculikan Ai berubah. Ai tidak diculik, gadis miskin itu hanya mengarang. POlisi menuduh bocah 14 tahun anak petugas perpustakaan itu telah berbohong. ."Ia hanya takut dimarahi orang tuanya karena membolos," kata Kapolres Sukabumi AKBP Guntor Gaffar.
 
Menurut Guntur, setelah ditelusuri polisi ternyata banyak kejanggalan dari cerita penculikan Ai. Guntor mengatakan, anak buahnya sudah mengorek informasi dari korban dan semua sekolah  di Warungkaiara dan Cikembar. Dari hasil pemeriksaan ternyata tidak ada siswa yang hilang, seperti yang dituturkan Ai Samsiah sebelumnya.
 
Apalagi dari keterangan beberapa teman Ai, kata Guntor, anak petugas perpustakaan itu sejak duduk di kelas I SMP sering berhalusinasi. Polisi pun sempat mendatangkan  psikiater untuk memeriksa kondisi Samsiah. Ia juga tidak akan dipidana lantaran telah memberikan laporan palsu. Tapi polisi akan tetap meminta  psikiater untuk mendampinginya agar tidak berhalusinasi lagi.
 
Cerita yang benar, lanjut Guntor, setelah turun di depan sekolahnya sekitar pukul 6.00 WIB, Ai langsung naik angkot jurusan Cikembar. Dari Cikembar ke Cibadak dan dari Cibadak naik angkutan umum jurusan Sukabumi-Bogor bersama Dadang.
 
Di Bogor, Ai Samsiah menjadi bingung pulang karena Dadang langsung bekerja. Dalam situasi kebingungan itulah muncul ide tentang penculikan. Ai kata polisi terinspiransi oleh tayangan televisi yang sering menayangkan penculikan.
 
Namun bagi Acun, ayah Ai, cerita polisi justru yang mengada-ada. Bagi Acun, Ai yang patuh dan penurut itu, selama ini tidak pernah berbohong.  Acun menduga, polisi enggan mengusut kasus penculikan tersebut lantaran Ai hanya dari keluarga jelata. Padahal bisa saja,Ai merupakan salah satu korban sindikat perdagangan anak dan perempuan.

Apakah Ai Samsiah calon korban sindikat perdagangan anak dan perempuan? Memang belum bisa dipastikan. Namun bisa jadi benar demikian. Apalagi Sukabumi dikenal sebagai salah satu pemasok perdagangan anak dan perempuan di Jawa Barat, yang merupakan sending area atau daerah pengirim terbesar di tingkat nasional.
 
Data Institut Perempuan menyebutkan, korban yang paling rentan diincar sindikat perdagangan anak adalah anak dan perempuan dari keluarga miskin, perempuan di pedesaan, anak atau perempuan putus sekolah dan yang mencari pekerjaan, anak perempuan jalanan atau anak yang diculik.
 
Melihat latar belakang Ai, gadis Sukabumi itu ternyata memenuhi kriteria korban paling rentan untuk diincar sindikat. Jadi jika Ai yang mengaku diculik kemudian disebut berhalusinasi, sungguh kasus ini menyisakan misteri. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads