Pagi itu, suasana sekolah di Solok Selatan terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berkumpul dengan rasa penasaran. Hari itu mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi diajak keluar untuk mengenal alam secara langsung.
Ada pohon yang harus ditanam, bibit yang perlu disiram, hingga cerita tentang satwa liar yang mungkin selama ini hanya mereka lihat dari buku atau layar televisi.
Kehadiran Panji Petualang membuat kegiatan semakin menarik. Dikenal sebagai pecinta satwa, Panji mengajak anak-anak berbicara tentang tanaman dan hewan liar dengan cara yang sederhana. Ia mengawali kegiatan dengan pertanyaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pohon yang ada janggutnya, pohon apa?" tanya Panji.
"Rambutan," jawab anak-anak.
"Benar, hari ini kita mau tanam pohon rambutan," ujar Panji.
Pertanyaan kemudian berlanjut pada manfaat pohon yang akan mereka tanam.
"Apa fungsi pohon yang kita tanam tadi untuk masa depan?" tanya Panji.
"Agar makhluk hidup bisa bernapas," jawab seorang anak.
Dari Pohon hingga Satwa, Anak Solok Selatan Belajar Menjaga Alam Foto: Mega Putra Ratya/detikcom |
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun, dari sana anak-anak mulai memahami bahwa menanam pohon bukan hanya soal memasukkan bibit ke tanah. Ada manfaat yang akan dirasakan makhluk hidup ketika pohon tersebut tumbuh dan dirawat.
Anak-anak kemudian bergantian menanam dan menyiram bibit. Mereka belajar bahwa tanaman membutuhkan perhatian agar dapat tumbuh.
Rasa penasaran mereka kepada Panji juga belum selesai. Beberapa anak kemudian bertanya tentang pengalamannya berhadapan dengan satwa liar, termasuk bagaimana dirinya menangkap ular.
Panji bercerita bahwa kedekatannya dengan satwa sudah dimulai sejak kecil. Saat itu, ia mengaku tidak punya banyak teman sehingga memilih berteman dengan ular.
Kedekatan tersebut terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan, pengalaman Panji bersama satwa liar tidak selalu berjalan aman. Ia pernah digigit ular dan juga pernah digigit buaya.
Cerita itu membuat anak-anak semakin antusias. Mereka mendengarkan pengalaman Panji sekaligus belajar bahwa mengenal satwa bukan berarti harus menangkap atau mengganggunya.
Dari Pohon hingga Satwa, Anak Solok Selatan Belajar Menjaga Alam Foto: Mega Putra Ratya/detikcom |
Belajar dari Hutan
Kegiatan bersama Panji menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa SD PT KSI YPTSS, Solok Selatan. Mereka mendapat kesempatan belajar langsung mengenai tanaman dan satwa di lingkungan sekitar kawasan konservasi hutan dan perkebunan sawit milik PT Kencana Sawit Indonesia Wilmar Group.
Kepala Sekolah SD PT KSI YPTSS, Giva Anis Gia, mengatakan para siswa sangat senang mengikuti kegiatan edukasi lingkungan tersebut. Anak-anak belajar menanam, menyiram, dan merawat pohon agar dapat tumbuh dengan baik.
"Anak-anak sepertinya sangat senang dan antusias sekali bisa bergabung dengan Panji dan tim dalam kegiatan edukasi lingkungan ini. Melalui kegiatan tadi, mereka sekarang sudah tahu bagaimana cara menanam pohon, menyiram, serta merawatnya dengan baik agar tetap tumbuh lestari sehingga bisa bermanfaat untuk lingkungan," kata Giva.
Menurut Giva, pengalaman belajar di alam memberikan pelajaran yang berbeda dari kegiatan di dalam kelas. Anak-anak juga diperkenalkan dengan jenis-jenis satwa yang masuk kategori konservasi atau dilindungi.
Mereka diharapkan memahami bahwa satwa liar memiliki tempat hidupnya sendiri. Jika suatu saat bertemu, satwa tersebut tidak perlu diganggu atau dibunuh.
"Jika di sekolah pelajaran biasanya hanya mengikuti kurikulum pendidikan resmi, di hutan ini anak-anak mendapatkan pelajaran langsung yang tidak ada di sekolah. Salah satunya adalah mempraktikkan cara menanam pohon dengan baik dan merawatnya. Selain itu, anak-anak kini menjadi tahu jenis-jenis hewan yang termasuk ke dalam kategori konservasi atau dilindungi," ujarnya.
Pelajaran itu diharapkan ikut dibawa anak-anak ketika kembali ke rumah. Mereka bisa menceritakan apa yang didapat kepada orang tua, saudara, maupun teman.
"Kami sangat berharap kedatangan Panji dan tim bisa menjadi motivasi besar bagi anak-anak agar ke depannya mereka lebih peduli dan aktif merawat lingkungan di sekelilingnya, baik itu alam, tumbuhan, maupun ekosistem di sekitarnya," tutur Giva.
Menanam Pohon Jadi Kebiasaan
Menanam pohon bukan kegiatan yang hanya dilakukan ketika ada kunjungan atau kegiatan khusus. Sekolah memiliki agenda penanaman pohon yang melibatkan siswa kelas 1 setiap beberapa bulan.
Bibit pohon buah hutan alam disiapkan untuk kemudian ditanam bersama siswa. Anak-anak diajarkan cara menanam sekaligus merawatnya.
Dari kegiatan tersebut, lingkungan sekolah kini memiliki sejumlah pohon seperti mangga, durian, dan jambu jamaika. Sebagian pohon bahkan telah tumbuh hingga sekitar 2-3 meter.
Anak-anak juga diajak mengelola kebun sayur milik sekolah. Mereka belajar menanam, merawat hingga memanen sayuran. Hasil panen kemudian dapat dibawa pulang.
Kegiatan tersebut membuat anak-anak tidak hanya mengenal tanaman dari teori, tetapi melihat sendiri prosesnya sejak bibit ditanam hingga menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Anak-anak yang Tumbuh Dekat dengan Alam
Kepala Sekolah SD PT KSI YPTSS, Giva Anis Gia, mengatakan para siswa sangat senang mengikuti kegiatan edukasi lingkungan. Foto: Mega Putra Ratya/detikcom |
SD PT KSI YPTSS memiliki 452 siswa pada tahun ajaran 2026. Para siswa merupakan anak-anak pekerja kebun yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Jumlah siswa yang cukup banyak membuat sekolah menerapkan dua shift pembelajaran. Sebanyak 22 rombongan belajar dibagi menjadi 11 rombel pada pagi hari dan 11 rombel pada siang hari.
Lokasi sekolah yang jauh dari kawasan perkotaan membuat anak-anak memiliki pengalaman yang berbeda. Giva melihat para siswa justru sangat antusias ketika mendapat kegiatan di alam terbuka.
"Murid-murid di sini sangat antusias dan semangat setiap kali ada hal-hal baru yang diajarkan, terutama karena lokasi sekolah kami memang jauh dari wilayah perkotaan. Menariknya, antusiasme anak-anak di sini terhadap gadget tidak se-semangat atau se-tinggi anak-anak yang tinggal di kota. Mereka jauh lebih antusias dan bersemangat melakukan aktivitas langsung di alam terbuka seperti ini," kata Giva.
Untuk mendukung mobilitas siswa, tersedia enam bus sekolah yang digunakan secara gratis untuk mengantar dan menjemput anak-anak dari tempat tinggal mereka menuju sekolah.
Sekolah Sehat hingga Berprestasi
Kepedulian terhadap lingkungan berjalan bersama dengan berbagai kegiatan dan prestasi sekolah. Pada 2018, SD PT KSI YPTSS menjadi salah satu perwakilan Kabupaten Solok Selatan dalam ajang Sekolah Sehat. Sekolah tersebut kemudian diundang ke Jakarta dan berhasil meraih juara 4 tingkat nasional.
Di bidang akademik dan kreativitas, siswa rutin mengikuti FLS2N, O2SN, serta Olimpiade Sains hingga tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Bulu tangkis dan atletik menjadi cabang olahraga yang cukup menonjol. Aktivitas olahraga dan seni juga didukung dengan keberadaan gedung GOR sekolah yang digunakan untuk latihan dan berbagai kegiatan.
Sekolah juga memiliki Rumah Tahfidz. Selama lima tahun berturut-turut, program tersebut berhasil masuk tiga besar tingkat kabupaten.
Menyiapkan Penjaga Alam dari Sekolah
Bagi Giva, pengalaman anak-anak belajar langsung di alam diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pengetahuan tentang tanaman dan satwa liar bisa dibawa pulang dan diceritakan kembali kepada keluarga. Dari sana, kebiasaan menjaga lingkungan diharapkan ikut tumbuh di luar sekolah.
"Kami berharap setelah mendapatkan edukasi langsung dari para ahli konservasi serta tim Panji, anak-anak bisa menularkan dan menyosialisasikan pengetahuan ini kepada teman-teman, keluarga, maupun masyarakat di rumah. Kami ingin mereka terbiasa untuk menjaga kebersihan dan merawat hutan dengan menanam kembali pohon-pohon yang rusak," ujarnya.
Andin yang bercita-cita jadi dokter ini terbiasa membantu orang tuanya menanam pohon, seperti durian dan rambutan. Foto: Mega Putra Ratya/detikcom |
Salah satu siswa kelas 6, Andin, mengaku senang mengikuti kegiatan bersama Panji. Ia mendapat pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga hutan dan tanaman.
Di rumah, Andin juga membantu orang tuanya menanam pohon, seperti durian dan rambutan. Pengetahuan yang didapat di sekolah pun menjadi sesuatu yang bisa ia praktikkan bersama keluarganya.
"Kita mendapatkan informasi yang bagus dan bermanfaat untuk menjaga kelestarian hutan ini adalah tugas kami semua. Kami terima kasih kepada Bang Panji karena informasinya sangat bermanfaat untuk kami. Pengalaman kami di sini sangat happy karena ada bang Panji." tutur Andin yang bercita-cita jadi dokter ini.
Harapannya sederhana: semakin banyak anak yang memahami alam, semakin banyak pula yang tumbuh dengan kebiasaan menjaganya.
Bagi anak-anak di Solok Selatan, belajar tentang alam tidak selalu harus dimulai dari pelajaran panjang di dalam kelas.
Ia bisa dimulai dari sebatang pohon rambutan yang mereka tanam sendiri, dari tangan yang menyiram bibit setiap hari, atau dari pemahaman bahwa ular, siamang, rangkong dan satwa liar lainnya juga memiliki tempat untuk hidup.
Dari sekolah, pengetahuan itu kemudian dibawa pulang. Dan ketika anak-anak mulai memahami bahwa menjaga pohon berarti menjaga kehidupan, pendidikan konservasi pun menemukan bentuknya yang paling sederhana: merawat apa yang ada di sekitar mereka.
Simak juga Video 'Orang Utan Raya-Rayu Kembali ke Alam Usai Diselamatkan dari Karhutla':
(ega/anl)













































