Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengoreksi proyeksi awal potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Barat 2026 yang mencapai Rp5,7 triliun. Setelah rekonsiliasi, potensi defisit APBD Jabar 2026 nilainya lebih kecil, yaitu Rp3,4 triliun.
Dedi mengungkapkan potensi defisit disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dana bagi hasil pajak pemerintah pusat ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang belum dibayar sejak 2023 hingga 2026.
Faktor lainnya, yakni cukai rokok tahun ini yang tidak tercapai. Selain itu, mobil listrik yang tidak dipungut pajak kendaraan bermotor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhirnya dari Rp5,7 triliun itu defisitnya bisa ditekan menjadi Rp3,4 triliun," ucap Dedi dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Dedi menambahkan, defisit juga disebabkan karena pelaksanaan pembangunan secara masif hingga menjangkau pelosok di Jabar.
Adapun potensi defisit Rp3,4 triliun ini akan diatasi dengan mengajukan pinjaman uang ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang merupakan perusahaan pengelolaan keuangan di bawah Kementerian Keuangan. Pembayaran hutang akan menggunakan dana bagi hasil dari pemerintah pusat.
"Kita ajukan pinjaman ke PT SMI dan yang bayarnya Kementerian Keuangan karena kita punya tagihan (piutang)," jelasnya.
Dedi mengungkapkan rencana mengajukan pinjaman saat ini masih pada tahap pertimbangan karena perlu terlebih dahulu melihat kemampuan keuangan Pemprov Jabar. Apabila kas Pemprov Jabar masih cukup, pinjaman belum tentu diajukan.
Tonton juga video "Kata KDM, Flyover Margonda-Underpass Citayam Bakal Dibangun 2027"
(anl/ega)









































