Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Hasan Wirayuda usai Sarapan Bersama dengan 32 negara untuk mengorganisir penyelamatan hutan troopik, di BICC Nusa Dua bali, Kamis (13/12/2007).
Pertemuan pagi ini merupakan kelanjutan pertemuan negara F-11 dan negara-negara maju hari kemarin. Pertemuan yang digagas Indonesia ini diikuti oleh 32 negara. Dalam pertemuan ini, gagasan Indonesia untuk mengorganisir negara-negara maju dan negara pemilik hutan tropis mendapat sambutan.
Dari negara maju ada Jerman, Norwegia, AS, Inggris, Portugis, Uni Eropa. Sementara Negara pemilik hutan tropis seperti dari Brazil, Papua Nugini, dan Bagon. Negara-negara ini sepakat bahwa hutan sebagai upaya mencegah perubahan iklim. Semua negara sudah satu visi bahwa harus ada solusi untuk mengatasi degradasi hutan untuk berkontribusi mengurangi emisi karbon.
"Disepakati akan membuat rencana jalan besar (Road Map) tahun depan yang melibatkan lembaga riset, tidak hanya pemerintah dan non-pemerintah (NGOs). Kita tidak perlu menunggu sampai komitmen Protokol Kyoto berakhir 2012, tapi komitmen kehutanan bisa dimulai dari sekarang," kata Hassan.
US$ 500 Juta Per Tahun
Dituturkan Hassan, salah satu komitmen negara maju dari Norwegia akan memberikan insentif US$ 500 Juta pertahun untuk kerjasama di bidang kehutanan.
Indonesia sendiri berpotensi untuk menyerap kompensasi dan mengelola hutan secara nasional lewat Sustainable Forest Management (SFM)".
Hal senada juga disampaikan Menhut MS Kaban. Menurut Kaban, semua negara telah sepakat terhadap upaya pencegahan deforestasi. Deforestasi ini untuk semua jenis hutan,tidak hanya hutan konservasi melainkan hutan lindung dan produksi.
"Ketika memulihkan hutan semua dapat kompensasi. Semua dapat "keseluruhan. Ini didukung oleh Jerman, Jepang dan Perancis," kata Kaban.
Inggris telah memberikan penilaian positif, bahwa usaha penilaian usaha perbaikan hutan di Inonesia sudah maju. Degradai hutan dari 2,8 juta ha/ tahun menjadi 1,08 juta ha pertahun.
APBD seluruh daerah meningkat 800 persen menjadi US$ 1 M pertahun.
"Ini perubahan sangat drastis. Pertemuan lanjutan untuk mencegah degradasi akan dilanjutkan tahun depan," tandas Kaban.
Namun sayangnya meski semua negara maju telah sepakat terhadap REDD, Amerika Serikat tetap dengan pendiriannya. "Dia belum berubah," kata Kaban.
(iy/iy)











































