×
Ad

Kilas Balik

Tragedi Pesawat Tabrak Gunung Saat Mode Autopilot

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 13 Sep 2026 18:22 WIB
Foto: Tragedi Air New Zealand (Wikimedia Common)
Jakarta -

Kecelakaan pesawat Air New Zealand Penerbangan TE 901 di Antartika menjadi salah satu tragedi akibat masalah navigasi. Pesawat ini menabrak gunung saat mode autopilot karena kegagalan proses navigasi.

Dikutip dari laporan resmi penyelidikan Komisi Kerajaan Selandia Baru (Royal Commission), insiden ini terjadi pada 28 November 1979. Sebuah pesawat jenis McDonnell-Douglas DC10-30 yang dioperasikan oleh Air New Zealand (Penerbangan TE 901) mengalami kecelakaan fatal saat melakukan penerbangan dari Auckland menuju Antartika.

Semua bermula saat koordinat titik navigasi di komputer navigasi darat diubah oleh divisi operasi penerbangan tanpa sepengetahuan kru pesawat. Perubahan garis bujur ini menggeser rute penerbangan sejauh 27 mil ke arah timur, yang mengubah jalur penerbangan aman ke jalur Gunung Erebus, Pulau Ross, Antartika.

Saat itu, Kapten Pilot Collins dan kru meyakini bahwa rute navigasi akan membawa mereka menyusuri bagian tengah McMurdo Sound yang datar, sesuai rute yang telah diplot oleh Kapten Collins pada peta malam sebelumnya.

Pesawat melaporkan posisinya berada 43 mil di utara pada ketinggian 18.000 kaki dan meminta izin turun dalam kondisi Visual Meteorological Conditions (VMC). Pesawat kemudian mengonfirmasi sedang turun ke ketinggian 10.000 kaki dan meminta bantuan let-down radar melalui awan.

Kemudian, transmisi radio terakhir diterima dari pesawat. Kru lantas mengabarkan bahwa pesawat berada di ketinggian 6.000 kaki dan sedang turun menuju 2.000 kaki.

Tak lama setelah itu, pesawat menabrak lereng Gunung Erebus pada ketinggian 1.500 kaki. Kala itu, pesawat terbang dengan kecepatan 260 knot dalam posisi lurus dan mendatar.

Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpang dan awak di dalam pesawat yang berjumlah 257 orang, terdiri dari 237 penumpang dan 20 awak pesawat. Tidak ada korban yang selamat dalam tragedi ini.

Akibat Salah Navigasi, Autopilot Bergerak Tabrak Gunung

Saat penyelidikan, pihak Selandia Baru menemukan beberapa temuan. Saat kondisi autopilot, pesawat mengikuti rute navigasi yang keliru. Ada kegagalan sistemik dari tim Operasi Penerbangan Air New Zealand yang mengubah koordinat rute penerbangan pada komputer navigasi tanpa memberitahukan atau memperingatkan kru pesawat.

Bencana ini diperparah oleh kondisi cuaca di Antartika. Cahaya redup di bawah lapisan awan yang memantul pada permukaan salju putih datar menyebabkan lereng gunung yang menanjak tampak sepenuhnya mendatar di mata kru.

Akibat ilusi ini, tidak ada satu pun dari 5 orang di kokpit yang menyadari adanya lereng gunung di depan mereka hingga saat benturan terjadi.

Lihat juga Video Badan-Ekor Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork