C-130 Hercules kini digunakan di hampir 50 negara. Baik sebagai pesawat angkut militer maupun sipil. Untuk keperluan militer, Hercules bisa membawa 100 personel bersenjata lengkap. Hercules juga mampu mengangkut aneka kendaraan lapis baja ringan.
Si tambun ini juga sering digunakan dalam misi-misi kemanusiaan. Terutama untuk mengangkut logistik dalam jumlah besar ke lokasi bencana alam. Bagasinya yang ekstra besar dan kemampuannya mendarat di landasan yang pendek menjadi andalan pesawat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dengan 4 mesin turboprop, si tambun ini mampu membawa beban lebih dari 30 ton pada kecepatan 621 km/jam (335 knots) dan pada ketinggian 3.658 meter (12.000 feet). Dalam keadaan tanki penuh, C-130 Hercules juga mampu terbang sejauh 6.000 km tanpa perlu melakukan pengisian bahan bakar.
Hercules juga dapat digunakan sebagai pesawat angkut biasa maupun VIP. Namun yang unik kursi yang digunakan adalah kursi-kursi jaring yang dikaitkan pada badan pesawat. Sehingga penumpang duduk berhadap-hadapan.
Mungkin untuk prajurit, duduk berhadap-hadapan saat mengarungi angkasa tidak masalah. Tapi untuk sipil, ini benar-benar cita rasa baru.
"Waduh kok kayak naik mikrolet berhadap-hadapan begini. Tapi ini di udara loh. Kaget juga," ujar peserta observasi Dephan saat mencicipi tubuh Hercules dalam perjalanan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat yang diikuti detikcom, Rabu 5 Desember 2007.
Di Indonesia, pesawat Hercules pertama kali tiba pada tahun 1960. Semenjak itu Hercules tak pernah absen mengikuti berbagai operasi militer dan kemanusiaan yang digelar di Tanah Air. (rdf/sss)











































