Kapal tanpa awak kerap dipakai oleh militer Amerika Serikat (AS) untuk memperluas serangan di wilayah musuh. Kapal tanpa awak ini bisa masuk ke wilayah musuh dengan efektif.
Dikutip dari laman Naval Sea Systems Command (NAVSEA), LUSV (Large Unmanned Surface Vessel) atau kapal permukaan tanpa awak berukuran besar, memang dirancang dengan fokus utama untuk memperluas kapasitas serangan di laut (afloat strike) serta peperangan anti-permukaan (anti-surface warfare) dalam mendukung kapal perang berawak.
Meskipun dirancang untuk misi serangan, pengoperasian senjatanya memiliki aturan khusus menurut spesifikasi militer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kenapa Apache Disebut 'Pemburu Tank'? |
LUSV mampu bernavigasi secara mandiri (otonom), namun seluruh penggunaan senjata (weapons employment) wajib diperintahkan dan dikendalikan dari jarak jauh oleh stasiun kontrol atau kapal perang berawak yang memiliki kru.
Manusia tetap dilibatkan dalam sistem kendali, baik sebagai operator yang mengontrol langsung (in the loop) maupun pengawas tindakan (on the loop) saat mengoperasikan mesin dan bermanuver.
Selain itu, AS juga memiliki Overlord Unmanned Surface Vessels (OUSV). OUSV merupakan program purwarupa yang dikelola oleh Program Executive Office Unmanned and Small Combatants (PEO USC) untuk mendukung pengembangan teknis program USV.
Kapal ini dioperasikan oleh kontraktor bersama dengan Surface Development Group ONE (SURFDEVGRU 1) dan Unmanned Surface Vessel Squadron ONE (USVRON 1) untuk mengembangkan konsep operasi, taktik, prosedur, serta integrasi armada
OUSV dapat beroperasi secara mandiri maupun bersama kapal tempur berawak. OUSV juga telah berintegrasi dengan armada tempur dalam latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2022 serta penugasan ke Pasifik Barat (termasuk Jepang dan Australia) dalam latihan Autonomous Warrior.
(rdp/imk)









































