Tragedi Pesawat Terjun Bebas Akibat Komponen Kecil Lupa Dipasang

Kilas Balik

Tragedi Pesawat Terjun Bebas Akibat Komponen Kecil Lupa Dipasang

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2026 14:43 WIB
Ilustrasi Pesawat Amfibi
Foto: Ilustrasi pesawat amfibi (iStock)
Jakarta -

Sebuah kecelakaan pesawat bisa terjadi karena hal-hal yang terlihat kecil. Namun kesalahan kecil ini bisa memicu kecelakaan maut.

Salah satu kecelakaan pesawat yang terjadi karena hal seperti ini adalah insiden pesawat amfibi de Havilland DHC-3 Otter. Pesawat itu jatuh pada 4 September 2022.

Dikutip dari laporan Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB), awalnya pesawat amfibi yang dioperasikan oleh Friday Harbor Seaplanes (West Isle Air) ini lepas landas dari Friday Harbor Seaplane Base (W33) pukul 14.50 waktu setempat menuju Renton, Washington. Ini merupakan penerbangan kelima dari jadwal sang pilot hari itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesawat terbang mendatar pada ketinggian jelajah antara 600 hingga 1.000 kaki di atas permukaan laut dengan kecepatan berkisar antara 115-135 knot. Kondisi cuaca pun dilaporkan cerah dengan sedikit turbulensi sedang.

Namun siapa sangka, sekitar 18 menit setelah mengudara, pesawat tiba-tiba menanjak sedikit sekitar 8°, lalu secara ekstrem langsung menukik sangat tajam ke bawah hingga kemiringan 58°.

ADVERTISEMENT

Saksi mata di sekitar lokasi kejadian dan rekaman kamera keamanan mengonfirmasi pesawat mendadak menukik hampir vertikal. Beberapa saksi mendengar suara mesin pesawat dan melihat pesawat berputar-putar saat terjun bebas. Pesawat langsung menghantam permukaan air di Mutiny Bay dan tenggelam ke kedalaman sekitar 200 kaki.

Seluruh 10 orang di dalam pesawat, yang terdiri dari 1 pilot dan 9 penumpang, tewas seketika.

Lupa Pasang Ring Pengunci

Terlepasnya mur penjepit (clamp nut) dari tabung aktuator penstabil horizontal udara menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Mur lepas karena ring pengunci (lock ring) untuk menahannya tidak ada/hilang.

Puing aktuator yang ditemukan menunjukkan tidak ada cincin pengunci di tempatnya. NTSB tidak dapat memastikan apakah ring tersebut patah lalu terlepas saat terbang, atau memang lupa dipasang oleh petugas saat perawatan penggantian bantalan lima bulan sebelum kecelakaan. Namun, dugaan kuatnya ring tersebut lupa dipasang.

Penyelidik menemukan bahwa selama perawatan pada April 2022, direktur pemeliharaan memasang segel kelembapan (sil berwarna merah) pada aktuator untuk mencegah korosi. Pengujian laboratorium membuktikan segel ini meningkatkan gesekan rotasi antara mur penjepit dan baut mata.

Tonton juga video "Aksi Terjun Payung Kopassus Pukau Istana Merdeka di HUT ke-81 RI"
(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini