Pemulihan lahan persawahan terdampak bencana di Kabupaten Pidie, Aceh, terus menunjukkan perkembangan. Program optimalisasi terhadap 287 hektare sawah rusak ringan telah mencapai 90%, sementara penanganan sejumlah titik rusak berat mulai dilakukan menggunakan alat berat.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Pidie Iskandariah mengatakan program optimalisasi tersebut merupakan bantuan Kementerian Pertanian RI (Kementan) untuk memulihkan fungsi lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
"Ada seluas 287 hektare areal persawahan terdampak bencana banjir yang masuk program optimalisasi dari Kementerian Pertanian. Dari 287 hektare sawah tersebut, realisasinya mencapai 90%," kata Iskandariah, dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pendataan Distanpan Kabupaten Pidie, total sawah terdampak mencapai 502 hektare. Luasan tersebut terdiri atas 287 hektare rusak ringan, 120 hektare rusak sedang, dan 95 hektare rusak berat.
Program optimalisasi difokuskan pada sawah rusak ringan dan mencakup rehabilitasi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan ringan. Bantuan diberikan langsung kepada kelompok tani dengan luas penanganan berkisar 10-20 hektare untuk setiap kelompok.
"Bantuan optimalisasi lahan pertanian tersebut diberikan langsung kepada kelompok tani. Lahan yang dioptimalisasi kelompok tani tersebut masing-masing berkisar 10-20 hektare," ujar Iskandariah.
Untuk sawah rusak berat seluas 95 hektare, penanganan dilakukan secara bertahap di sejumlah lokasi. Di antaranya, sawah seluas 20 hektare di Blang Pandak, Kecamatan Tangse, serta 11 hektare di Kecamatan Tiro.
"Sawah rusak berat tersebut di antaranya 20 hektare di Blang Pandak, Kecamatan Tangse, dan 11 hektare di Tiro. Saat ini, dua titik sawah rusak berat tersebut ditangani Satgas PRR dan sekarang sudah ada alat berat yang menanganinya," kata Iskandariah.
Hasil pemulihan mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah areal persawahan telah kembali ditanami, bahkan sebagian sudah memasuki masa panen dengan hasil yang dinilai cukup baik.
Kolaborasi Kementan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie, Satgas PRR, dan kelompok tani diharapkan mempercepat pemulihan seluruh lahan terdampak sehingga kegiatan pertanian dan sumber penghidupan masyarakat kembali berjalan.










































