Kualitas Udara di Kota Bogor Berstatus Sedang, Pasien ISPA meningkat

Kualitas Udara di Kota Bogor Berstatus Sedang, Pasien ISPA meningkat

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2026 11:59 WIB
Close up of a beautiful woman with double medical masks in the outdoors. Mid adult standing in front of her house and waiting for friend or taxi.
Foto ilustrasi penggunaan masker saat udara kotor: (Getty Images/iStockphoto/Leylaynr)
Bogor -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Imbauan diberikan setelah hasil pemantauan kualitas udara dan perkembangan kasus gangguan kesehatan muncul.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor, Ana Ismawati, mengatakan kualitas udara Kota Bogor berada pada kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 85 µg/m³.

"Dengan kondisi kualitas udara saat ini, kami mengimbau masyarakat, terutama lansia, anak-anak, penderita asma, alergi, serta warga dengan gangguan jantung dan pernapasan, untuk lebih waspada dan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan dalam waktu lama," ujar Ana, Sabtu (12/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data tersebut tercatat pada hari Jumat, 11 September 2026 kemarin. Menurutnya berdasarkan pemantauan indeks standar pencemar udara (ISPU) selama 24 jam, tercatat rata-rata konsentrasi sebesar 69,33 µg/m³.

ADVERTISEMENT

"Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan, khususnya bagi kelompok sensitif. Masyarakat umum yang sehat masih dapat beraktivitas di luar ruangan dengan tetap memperhatikan kondisi tubuh dan perkembangan kualitas udara," jelasnya.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan gangguan kesehatan berkaitan dengan rabu vulkanik. Pemantauan dilakukan melalui fasilitas layanan kesehatan.

"Data pemantauan menunjukkan jumlah pasien dengan gangguan kesehatan yang dipantau meningkat dari 1.360 pasien pada periode sebelumnya menjadi 1.544 pasien pada periode saat ini, atau bertambah 184 pasien," jelasnya.

"Perkembangan tersebut mencakup kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan mata, dan gangguan kulit," tambah dia.

Kenaikan jumlah kasus tersebut menurutnya masih memerlukan kajian lebih lanjut. Sebab, untuk mengetahui faktor penyebab dan keterkaitannya dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memantau perkembangan kasus secara berkala. Kenaikan ini perlu dianalisis lebih lanjut agar langkah penanganan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan," jelasnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama instansi terkait terus memantau perkembangan penyakit dan kualitas udara. Pemantauan dilakukan guna mendapatkan gambaran perkembangan kesehatan masyarakat dan menentukan langkah yang tepat.

"Koordinasi pemantauan kualitas udara dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup, BMKG, dan BPBD," kata Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena.

Tonton juga video "Kemenkes Stok 1,7 Juta Masker N95 Untuk Provinsi Terdampak Karhutla"

(rdh/zap)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini