"Konkretnya belum, baru mau dimulai tahun 2008," ujar Kasubdit HIV/AIDS dan PMS Depkes dr Sigit Priohutomo dalam press briefing tentang "Penanganan HIV/AIDS dan TB" di Depkes, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (12/12/2007).
Namun di Jakarta, imbuh dia, sudah ada proyek percontohan pelayanan satu atap penderita HIV dan TB, yakni Puskesmas Tebet dan Puskesmas Kampung Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyakit HIV dengan daya tahan tubuh rendah, infeksi TB yang tadinya tidur menjadi aktif. Perkembangan virus TB menjadi lebih cepat," katanya.
Angka kesakitan dan kematian pada pasien yang mengidap TB dan HIV empat kali lebih besar dibandingkan pasien yang menderita TB.
Risiko lain yang juga perlu dilihat, obat TB dan HIV kerjanya ada yang berlawanan, sehingga tidak maksimal mengobati pasien.
"Kalau urgent TB-nya dulu yang diobati, nanti setelah 2 minggu baru dicari pengobatan HIV yang cocok dan tidak berlawanan," ujarnya.
Pusat layanan satu atap ini diharapkan bisa diterapkan pada rumah sakit tingkat provinsi karena sudah tersedia sarananya.
Sebagai catatan, penderita TB di dunia tahun 2002 mencapai 2 miliar orang dan HIV/AIDS 42 juta orang. Sepertiga dari ODHA diketahui terdeteksi TB dan 40 persennya meninggal karena TB.
Sementara 3,2 juta orang coinfeksi TB di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada 3-5 tahun mendatang diperkirakan 20-25 kasus TB di negara Asia Selatan dan Asia Tenggara berkaitan HIV/AIDS. (umi/nrl)











































