"Biasanya pendapatan saya kurang dari setoran. Makanya sering utang. Kalau Blue Bird datang, utang pasti tambah," kata sopir Pandu Taksi, Suyoko kepada detikcom di Balaikota Semarang, Selasa (11/12/2007).
Dua tahun belakangan, aku Suyoko, setoran tidak dapat dipenuhi, karena minimnya jumlah penumpang dan banyaknya taksi yang beroperasi. Pendapatan yang lebih jarang didapatkan.
Senada dengan Suyoko, sopir Taksi Sentris Maman mengatakan, dengan jumlah armada sekitar 800 unit, masyarakat Semarang sudah terlayani. Kadang sopir taksi kelimpungan, karena tak semua warga menggunakan jasa taksi.
"Kalau ditambah 300 unit Blue Bird, lha kami dapat apa? Kami makan apa? Utang lagi?" kata Maman dengan nada retoris.
Suyoko maupun Maman tak disebut kalah sebelum bertanding. Keduanya mau bersaing dengan siapa pun, termasuk Blue Bird. Selama ini, mereka juga sudah bersaing dengan perusahaan taksi lain.
"Tapi kehadiran Blue Bird bukan masalah persaingan, tapi seperti upaya mematikan perusahaan taksi Semarang," jelas dia.
Saat ini, enam perusahaan taksi Semarang mengoperasikan armada yang cukup bagus. Mobil yang digunakan minimal keluaran tahun 2003 ke atas. Pelayanan juga dinilai sudah baik, karena sopir selalu berseragam dan patuh pada argometer. (try/asy)











































