Demikian disampaikan pejabat-pejabat konsulat Korsel di Hong Kong seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (11/12/2007).
"Mereka sekarang punya anak sendiri. Mereka merasa sulit membesarkannya karena cultural shock. Mereka bilang, dia tidak mau makan makanan mereka. Itu salah satu alasan. Alasan yang aneh," ujar juru bicara konsulat Korsel di Hong Kong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasangan Belanda tersebut mengadopsi si anak ketika diplomat tersebut bekerja di Korsel. Istri diplomat itu sempat didiagnosa infertil namun kemudian dia hamil setelah mereka pindah ke Hong Kong.
Susan So, Direktur Komunitas Hong Kong untuk Perlindungan Anak menyesalkan kejadian ini. Menurutnya, orangtua harusnya mendapatkan konseling terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengadopsi anak.
"Mereka harusnya tahu bahwa ada risikonya jika mereka mengadopsi anak. Begitu Anda membuat keputusan, itu artinya komitmen. Jika tidak, anak-anaklah yang menderita," tandasnya.
Kini bocah yang tidak disebutkan namanya itu berada dalam pengasuhan pemerintah Hong Kong. Pemerintah setempat masih mencarikan keluarga baru untuk anak tersebut.
(ita/ana)











































