Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung menghasilkan sebaran abu vulkanik yang meluas. Sebaran abu ini lebih luas daripada erupsi Gunung Anak Krakatau tahun 2018.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati. Rita mengatakan abu menyebar luas karena erupsi berlangsung lama sekali.
"Sebaran abu kali ini lebih luas karena erupsi berlangsung menerus selama sekitar 25 jam, menghasilkan volume abu yang signifikan yang terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh," kata Rita saat dihubungi, Senin (7/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, pada tahun 2018 terjadi gempa yang memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan.
Kembali ke penjelasan Rita. Sebaran abu Gunung Anak Krakatau memang lebih luas dari erupsi 2018. Salah satu faktor penyebabnya yakni pola angin musim kemarau.
"Namun, hal ini tidak berarti skalanya lebih besar daripada erupsi 2018. Meskipun ketinggian vertikal abu saat 2018 sempat mencapai lebih dari 55.000 kaki pasca-runtuhnya tubuh gunung, sebaran lateralnya kini justru lebih luas akibat pola angin musim kemarau di berbagai lapisan ketinggian," tuturnya.
Dia menjelaskan bahwa saat ini aktivitas Gunung Anak Krakatau didominasi oleh erupsi Strombolian. Sebaran abu diperkirakan mulai berkurang.
"Saat ini, aktivitas kembali didominasi oleh erupsi Strombolian yang singkat dan berulang, sehingga produksi serta luas sebaran abu diperkirakan akan mulai berkurang," ujarnya.
Erupsi Mulai Berakhir
Sebelumnya diberitakan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau terjadi sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Gunung Anak Krakatau kini mengalami letusan strombolian.
BMKG memaparkan data sebaran abu vulkanik per pukul 04.00 WIB. Lembaga tersebut mengidentifikasi dua klaster sebaran abu Gunung Anak Krakatau.
"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG dalam situs resminya.
Akibat sebaran abu ini, sejumlah bandara termasuk Bandara Soekarno-Hatta masih ditutup sementara.
Saksikan Live DetikSore:
Lihat juga Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat










































