BMKG Duga Dentuman di Bandung karena Fenomena Skyquake

BMKG Duga Dentuman di Bandung karena Fenomena Skyquake

Anggi Muliawati - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2026 14:49 WIB
Ilustrasi suara
Foto: Ilustrasi suara dentuman (Mental Floss)
Jakarta -

Dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan pihaknya telah mengecek sejumlah data untuk mencari penyebab dentuman tersebut. Data yang diperiksa meliputi aktivitas kegempaan, petir, kondisi cuaca, hingga magnet bumi.

"Di Bandung Raya terkait dengan dentuman, dentuman, ya. Jadi fenomena ini juga pernah terjadi di wilayah Bogor, ya. Itu bulan April 2020, yang kita kenal dengan fenomena skyquake," kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan hasil pemantauan BMKG menunjukkan tidak ada aktivitas kegempaan signifikan di wilayah Bandung Raya saat dentuman terdengar. Kondisi cuaca di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, juga secara umum terpantau cerah.

"Hasil data dari seismik, ya. Data hasil dari seismik kita bahwa aktivitas seismik di Sesar Lembang tidak signifikan. Artinya, tidak ada aktivitas seismik yang berkembang pada saat jam yang kita curigai," ujarnya.

Dia menjelaskan pemantauan melalui citra satelit Himawari juga menunjukkan tidak ada aktivitas pengumpulan awan di Bandung Raya pada waktu dentuman dilaporkan. Namun pada waktu yang sama justru terpantau aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau.

"Jadi, aktivitas sky earthquake ini, skyquake, ya, maksudnya dentuman langit. Kita curigai adanya fenomena yang tidak lazim, ya. Artinya rekaman darat itu kita curigai sebagai aktivitas Krakatau, ya, baik dari data informasi satelit, citrawan, dan aktivitas magnetik, juga dari data petir, ya," katanya.

"Nah, ini ternyata pas kejadian aktivitas tersebut itu memiliki aktivitas konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung sekitarnya, itu sedikit sekali petir," sambungnya.

Namun, dia mengatakan saat aktivitas di Gunung Anak Krakatau, tak ada laporan di Banten dan Jakarta terkait dentuman langit. Sebaliknya, aktivitas petir di Bandung Raya dan sekitarnya terpantau relatif sedikit.

"Jadi fenomena aktivitas vulkanik di Krakatau itu warga warga Banten dan sekitarnya dan Jakarta tidak melaporkan adanya dentuman atau skyquake ini, dentuman langit ya," jelasnya.

"Nah, itu yang menjadi kecurigaan kita bahwa aktivitas di daerah Bandung Raya tadi disampaikan dari cuaca, dari gempa bumi, dari aktivitas petir tidak adanya aktivitas yang dirasa sangat berarti di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya," sambungnya.

Dia mengatakan fenomena tersebut saat ini memang masih menjadi pertanyaan bagi para peneliti. BMKG masih mengkaji kemungkinan penyebab dentuman yang hanya terdengar di Bandung Raya dan sekitarnya.

"Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjawab bahwa aktivitas sky skyquake tadi ya, mungkin adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba. Karena di Bandung tahun kita ketahui bersama bahwa Kota Bandung dan sekitarnya itu di atas Danau Purba ya Danau Bandung ya. Jadi ini yang menjadi kecurigaan kita," paparnya.

Dia mengatakan dari pengamatan BMKG tidak menunjukkan aktivitas yang aneh akibat dentuman tersebut. Namun, menurutnya, masih perlu kajian mendalam mengenai hal itu.

"Jadi kita tidak mendapat laporan dari teman-teman dari Jakarta, dari Banten, dan dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor sekitarnya. Ya artinya fenomena aktivitas vulkanik yang ada di Krakatau yang kebetulan bersamaan pada jam tersebut itu artinya tidak memiliki efek dentuman langit atau yang kita sebut dengan skyquake ya," tuturnya.

Tonton juga video "Kenapa Dentuman Anak Krakatau Terdengar sampai Bandung? Ini Kata PVMBG"

(amw/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini