Bicara mereka yang santun dan senyum yang selalu mengembang membuat membuat sosok mereka enak dipandang. Jangan heran bila ada yang punya persepsi macam-macam terhadap sikap demikian. Bahkan banyak pula yang menganggap seorang pramugari mudah diajak kencan.
Beberapa pramugari dan pilot yang dihubungi detikcom, umumnya menyadari akan pandangan negatif tersebut. Hanya saja, kata Kapten Pilot Garuda, Rendy Sasmita Adjiwibowo, semua tergantung orang per orang. Bukan profesi. "Kalau mau jujur, pekerja kantoran, juga banyak yang melakukan tindakan tak bermoral," jelas Rendy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya tentang larangan pramugari atau pilot berbicara atau tertawa keras-keras di dalam pesawat. Perilaku semacam ini, kata Rendy, sudah diajarkan sejak dalam pendidikan. Dan itu terus diingatkan dalam setiap kesempatan oleh pimpinan di masing-masing maskapai saat mereka bekerja.
Tapi penerapan aturan itu bukan tanpa dilema, terutama bagi pramugari pemula. Saking takutnya melanggar peraturan, banyak pramugari pemula yang justru pasang muka jutek kepada penumpang. "Kita sering mendapat kritik seperti ini dari penumpang. Tapi ya itu tadi, itu sikap orang perorang,"tukas Silvi seorang pramugari yang tinggal Jakarta.
Namun terkadang, sikap jutek itu bukan tanpa sebab. Karena, imbuh Silvie, banyak juga penumpang yang bersikap genit kepada pramugari. Biasanya, pramugari yang mendapat "godaan" dari penumpang akan melaporkannya kepada Purser atau pengawas servis.
Tugas Purser adalah melakukan penilaian terhadap kinerja pramugari di atas pesawat. Laporan dari Purser inilah yang menentukan prestasi dan sanksi terhadap seorang pramugari. Sedangkan hubungan pilot dan pramugari sebatas hubungan rekan kerja, bukan antara atasan dan bawahan.
Rendy dan Silvie tidak menafikan bila antara pilot dan pramugari kemudian terjalin hubungan asmara. Tapi selagi mereka dapat bekerja secara profesional saat bertugas, tidak mengapa. Bahkan di salah satu maskapai penerbangan swasta, ada yang menerapkan larangan berpacaran antara pilot dan pramugari.
Lantas bagaimana dengan kasus pilot dan penumpang Batavia Air? Lagi-lagi Rendy menjawab itu perilaku orang per orang. Namun ia tidak begitu yakin dengan laporan yang disampaikan Suharyono, penumpang Batavia Air, dengan penerbangan 7-221 jurusan Jakarta-Balikpapan. Sebab untuk melakukan hubungan senonoh di dalam pesawat tidak mungkin. Karena ruangan di pesawat sangat sempit, sehingga tidak ada tempat untuk itu.
Menanggapi adanya upaya pilot mengatur schedul terbang pramugari, juga dibantah Rendy. Menurutnya, jadwal terbang antara pilot dan pramugari diatur oleh komputer. Ia mencontohkan di Garuda yang jumlah pilotnya sekitar 600 orang dan pramugrainya sebanyak 3.000 orang. Dalam setiap melayani rute penerbangan seorang pilot tidak akan selalu sama jadwalnya dengan salah seorang pramugari.
Tapi seketatnya aturan bukan berarti tidak bisa diakali oleh para awak pesawat. Seperti kata Rendy, semuanya tergantung prilaku orang per orang. (/ddg)











































