Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan berencana membangun jembatan penyeberangan orang (JPO) di Kali Pesanggrahan, Ulujami. Rencana itu memunculkan pertanyaan soal nasib perahu eretan atau getek yang selama ini menjadi akses warga untuk menyeberangi kali tersebut.
Dirangkum detikcom, Kamis (3/9/2026), rencana ini disampaikan saat Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo meninjau getek dan lokasi permukiman rawan banjir di Kali Pesanggrahan, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan. Hal itu dilakukan untuk merespons aduan masyarakat mengenai lokasi rawan banjir dan sarana transportasi menyeberang Kali Pesanggrahan yang saat ini hanya mengandalkan getek.
"Untuk itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan rencananya akan melakukan pembangunan infrastruktur berupa jembatan penyeberangan orang (JPO) oleh Suku Dinas Bina Marga Jakarta selatan," kata Syafrin dalam keterangannya, Minggu (30/8).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan dibangunnya JPO untuk menghubungkan Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Kebayoran Lama Utara dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga bila ingin menyeberang kali. Selanjutnya, untuk mengantisipasi banjir di kawasan itu, Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Selatan akan membersihkan dan mengeruk Kali Pesanggrahan untuk meminimalkan potensi genangan air.
Warga Minta Dibangun di Lokasi Berbeda dengan Getek
Sejumlah warga menyebut pembangunan JPO tersebut tidak menjadi masalah. Namun, warga meminta dibangun di lokasi yang berbeda dari lokasi getek.
Pantauan detikcom di lokasi, Kamis (3/9), getek itu tampak beroperasi seperti biasa. Lokasinya tepat di seberang MTsN 13 Jakarta.
Beberapa anak-anak dan warga tampak menuruni tangga di samping kali untuk menggunakan getek tersebut. Di antara mereka ada yang memberikan uang, ada juga yang sekadar berterima kasih sambil lalu.
Seorang operator getek, Tatang (27), mengatakan sebelumnya Syafrin sempat mengecek langsung getek dan lokasi itu. Katanya, kunjungan itu untuk meninjau pembangunan JPO di kawasan tersebut.
"Kalau bisa bikinnya jangan di sini dulu, Bang. Di atas atau di mana. Soalnya kalau langsung bikin di sini kan pasti ini berhenti dulu (geteknya). Warga mau aktivitas lewat mana? Kasihan. Tapi kalau bikinnya di atas atau di bawah, kan ini tetap bisa jalan. Jembatan jadi, ini selesai, juga sudah ada akses jembatan," kata Tatang saat ditemui di lokasi.
Tatang mengaku khawatir bila pembangunan JPO itu membuat operasional geteknya dihentikan. Namun, Tatang legawa tak narik getek bila Pemkot menjamin dirinya mendapat pekerjaan baru setelah itu.
"Harapannya kalau ada sih dipekerjakan atau ganti rugi, karena ini juga kan usaha. Apalagi ini juga baru, baru bikin, kan habis modal banyak lagi. Itu bekas-bekas perahu yang kemarin kan sudah dibongkarin buat cadangan jembatan kalau ada kerusakan," ungkap dia.
Tatang juga menyebutkan warga sekitar tak keberatan getek tetap beroperasi. Tapi dia mengaku siap mengikuti aturan bila geteknya tak boleh lanjut.
"Enggak, dilarang sama warganya. Katanya, 'Sudah, jalan saja terus.' Ya, kalau kami mah ikutin alurnya saja, disuruh berhenti ya berhenti, lanjut ya lanjut. Tapi kalau dibilang maunya, ya maunya sih lanjut," katanya.
Warga Sebut Getek Bantu Mobilitas
Sementara itu, seorang warga, Nining, menjemput anaknya pulang dengan menggunakan getek tersebut. Ia mengatakan getek tersebut membantu mobilitas warga sehingga ia mengaku tak ingin operasional getek itu dihentikan.
"Soalnya (getek) buat akses motong jalan. Kalau ke situ kejauhan. Kalau saya dari sini ke situ cepat, nggak usah muter jauh," kata Nining.
Meski begitu, Nining setuju saja dengan pembangunan JPO di untuk menghubungkan Ulu Jami dan Kebayoran Lama Utara. Tapi dia juga ingin operasional getek tidak dihentikan.
"Kalau JPO setuju aja. Tapi (operasional getek) berhenti mah jangan deh. Enak kayak gini, sudah dari dulu kayak gini," sambung Nining.
Warga lainnya, Mama Zahra, mengatakan getek di lokasi jadi andalannya untuk menjemput sang buah hati. Menurutnya, harus ada solusi lain untuk getek bila nanti dibangun JPO di kawasan itu.
"Tiap hari banget. Tiap hari kita pakai, Bang. Kalau jalannya muter kita pusing. Kalau ada JPO mungkin harus ada solusi buat ini (getek) ya," kata Mama Zahra.










































