Pramugari Plus Jadi Pilihan

Skandal Cinta Pramugari-Pilot (2)

Pramugari Plus Jadi Pilihan

- detikNews
Senin, 10 Des 2007 11:20 WIB
Jakarta - Sebuah karya ilmiah tulisan Indah Martina, mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Surabaya, bikin terkejut banyak orang. Skripsi berjudul Hubungan antara Harga Diri dengan Seks sebagai Sebuah Alat di Pekerjaan Pramugari Udara langsung menjadi sorotan, awal November, lalu.

Dalam skripsi yang sempat dilansir sejumlah media lokal maupun nasional tersebut, Indah menggambarkan fenomena kedekatan antara pramugari dengan pilot. Bahkan disebutkan banyak pramugari yang bersaing untuk mendekatkan diri kepada pilot. Tujuannya cuma satu. Supaya bisa mendapatkan materi dari sang pilot.

Dari penelitian yang dilakukan terhadap 176 pramugari diketahui, sebanyak 42,6% lebih sering menggunakan pendekatan seksual dibanding profesionalisme dalam bekerja. "Harap maklum, jika kemudian pilot dan pramugari tampak sangat mesra," begitu tulis Indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pola pendekatan yang dilakukan pramugari ada beragam cara. Ada yang duduk seksi dengan menyilangkan salah satu kaki di hadapan pilot. Ada pula yang melakukan pendekatan hingga ke ranjang. Semua itu umumnya dilakukan di mess atau di hotel.

Responden Indah berumur antara 20-35 tahun. Beberapa diantaranya sudah menikah atau berkeluarga. Tapi karena lingkungan kerja yang mendukung, skandal pilot dan pramugari tidak terelakan. "Selingkuh bagi mereka bukan barang yang baru".

Tulisan Indah rupanya diamini Senia, mantan pramugari sebuah maskapai penerbangan swasta yang cukup kesohor namanya. Pasalnya, kata Senia, penghasilan seorang pramugari-terutama yang pemula- tidak seberapa. Bayaran per jam terbang sekitar Rp 35 ribu. Dalam sepekan setidaknya pramugari seperti Senia kebagian rata-rata 25 sampai 30 jam terbang.

Angka yang didapat sebenarnya bisa mencukupi untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Hanya saja, bagi pramugari seperti Senia, nilai itu kurang mencukupi. Soalnya, ia harus mengongkosi gaya hidup dan penampilannya. "Kalau lagi off gue sama teman-teman sering clubing dan shopping. Mana cukup uang segitu," papar perempuan yang kini bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Tingginya ongkos gaya hidup dan perawatan tubuh serta penampilan, membuat Senia harus mencari cara lain untuk menambah penghasilan. Tapi yang diincar bukan pilot atau awak pesawat di tempatnya bekerja. Ia lebih mengincar penumpang yang menjadi customer nya. Alasannya ingin tetap menjaga imej di mata teman sejawat.

Perempuan semampai berdarah Ambon-Menado ini mengaku, selama tiga tahun bekerja jadi pramugari juga nyambi dengan melayani penumpang saat di darat. Namun, ia tidak sembarangan mencari pelanggan. Biasanya yang diincar adalah penumpang yang punya jadwal tetap atau rutin. Penumpang model begini menurut Senia biasanya berkantong tebal. Sebab umumnya mereka adalah pengusaha atau pejabat.

Untuk layanan di luar jam terbang seperti ini, dara yang kini berusia 26 tahun, mematok tarif paling minim Rp 1,5 juta per sekali kencan. Yang membuat Senia ketagihan, selain mendapat bayaran, ia juga sering dibelikan aneka barang dan pakaian oleh pelanggannya. "Lumayan kan uangnya bisa ditabung" katanya sambil tersenyum.

Dari hasil kerja gandanya selama tiga tahun, ia pun mampu mengumpulkan uang hingga ratusan juta rupiah. Uang tersebut kemudian ia belikan sebuah mobil Honda CRV bekas, membeli rumah lumayan mewah di wilayah Pondok Gede, plus bersekolah di jurusan public relation di Jakarta.

Kenikmatan hidup bergelimang uang yang dijalani Senia ternyata tidak mulus-mulus saja. Sebab pernah suatu ketika ia punya perasaan lain dengan pelanggannya. Ia mengaku jatuh cinta dengan pengusaha muda keturunan Tionghoa yang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah. Hubungan cinta itu pun ia jalani enam bulan lamanya.

Namun suatu ketika, ia mengetahui kalau pria yang jadi pacarnya sudah beristri. Senia mengaku terpukul saat itu. Soalnya saat berkenalan, pria tersebut mengaku masih lajang. "Gue dibohongin habis sama dia," keluh Senia.

Karena sakit hati, ia sempat terjebak obat-obatan terlarang. Pekerjaannya sebagai pramugari pun terganggu. Tidak lama berselang ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesinya sebagai pramugari, 2005 lalu.

Beberapa pramugari dan pilot yang dihubungi detikcom mengatakan, ada kemungkinan bila seorang pramugari berperilaku seperti itu. "Tapi setahu saya lebih banyak pramugari yang bermoral dan punya harga diri,"Silvie, pramugari pesawat carteran mengaskan. (ddg) (ddg/ddg)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads