BNPT: 620 Anak Teridentifikasi Terkait True Crime Community Sepanjang 2026

BNPT: 620 Anak Teridentifikasi Terkait True Crime Community Sepanjang 2026

Shonya Nur Rohmatunnisya - detikNews
Rabu, 02 Sep 2026 12:33 WIB
Kepala BNPT Eddy Hartono (Shonya/detikcom)
Kepala BNPT Eddy Hartono (Shonya/detikcom)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap data jumlah anak yang teridentifikasi terpapar paham ekstremisme lewat kelompok True Crime Community (TCC). BNPT mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah mengatasi persoalan itu.

Hal itu disampaikan Kepala BNPT Eddy Hartono dalam kegiatan 'Penguatan Peran Komite Sekolah, Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan' di Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026). Selain terpapar ekstremisme, ada anak yang terpapar paham ideologi ISIS lewat ruang digital.

Dalam data yang dipaparkan Eddy, anak-anak yang terkait dengan TCC itu berusia 11-18 tahun dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sementara 137 anak yang terpapar ISIS itu tersebar di 27 provinsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka kebanyakan terkoneksi dalam salah satu komunitas atau ekosistem digital yang berinteraksi terhadap fenomena kejahatan nyata, yaitu dalam grup True Crime Community," ujar Eddy.

Eddy menyebutkan grup TCC itu tidak sama dengan jaringan terorisme. Dia mengatakan BNPT tetap waspada karena isi grup tersebut bisa mempengaruhi perilaku remaja.

"Hal yang perlu diperjelas adalah True Crime Community sebenarnya tidak sama dengan terorisme. Ini hanya media, komunitas, atau ekosistem digital yang menjadi perantara ketika dijadikan sarana untuk komunikasi, sharing, ataupun diskusi. Hal yang sangat berbahaya adalah apabila ada perubahan perilaku dari remaja yang tergabung di dalam grup ini," ujar Eddy.

Eddy menjelaskan, internet menjadi sarana paling banyak digunakan kelompok radikal untuk propaganda, perekrutan, dan pendanaan terorisme. Dia mengatakan peran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sangat krusial untuk mencegah anak terpapar ekstremisme ataupun terorisme.

"Kami melihat berdasarkan penilaian perilaku berbasis risiko. Ketika terjadi perubahan perilaku atau trajektori, anak tersebut mulai mengglorifikasi atau menormalisasi kekerasan. Hal inilah yang dicoba dimitigasi dari tingkat SMP, madrasah, hingga sekolah rakyat bersama Kementerian Pendidikan Dasar Menengah untuk memperkuat komunitas sekolah," ujarnya.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (Shonya/detikcom)Mendikdasmen Abdul Mu'ti (Shonya/detikcom)

Mendikdasmen Ungkap Upaya Cegah Ekstremisme

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, yang hadir dalam acara tersebut mengatakan penyebaran ekstremisme kini menyasar kelompok usia anak. Dia menjamin sekolah-sekolah di Indonesia siap menjalankan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan (RAN PE) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Dia mengatakan dirinya telah menerbitkan Peraturan Menteri (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman. Dia mengatakan aturan itu dibuat untuk mencegah anak-anak terpengaruh kekerasan.

"Kita berkomitmen melaksanakan program ini dengan bersinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, komite sekolah, dan media. Banyak anak muda terpengaruh hingga menjadi aktor kekerasan karena menyaksikan tayangan di media tanpa bimbingan dan pengarahan," ujar Mu'ti.

Dia mengatakan RAN PE yang ditetapkan Prabowo telah mengatur upaya untuk mencegah kekerasan fisik dan nonfisik. Dia berharap sekolah yang aman dan nyaman akan menghasilkan generasi emas.

"Program yang ditetapkan oleh Bapak Presiden ini merupakan bagian dari upaya mencegah berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun nonfisik, yang terjadi di dunia nyata maupun dunia maya. Program ini sejalan dengan kebijakan Bapak Presiden tentang gerakan nasional menciptakan budaya yang aman dan nyaman, serta kebijakan Kemendikdasmen tentang membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman," ujarnya.

Simak juga Video 'BNPT Temukan 21 Ribu Konten Radikalisme-Terorisme Sepanjang 2025':

Halaman 2 dari 3
(haf/haf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini