Dari rumah duka kompleks dosen Bulaksumur Blok F No 9, jenazah dibawa menuju Balairung UGM yang berjarak 500 meter. Di tempat itu sudah menunggu para pimpinan UGM dan pelayat untuk memberikan penghormatan terakhir.
Beberapa pelayat yang hadir di antaranya Rektor UGM Prod Ir Sudjarwadi PhD, Wakil Rektor Prof Dr Retno Sunarningsih Sudibyo, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM Prof Dr Samsul Hadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat di semayamkan di Balairung UGM, istri almarhum Sri Kadaryati didampingi dua orang anaknya Nimpuno dan Roswita terus menerima ucapan bela sungkawa dari para pelayat.
Salah seorang murid almarhum, Prof Dr Suhartono menuturkan pribadi dan keilmuwan Prof Sartono patut
ditiru. Dia adalah orang yang jujur, punya integritas moral yang tinggi.
Beliau mengajarkan kedisiplinan, obyektif dan teguh pada pendirian. Sebagai seorang ilmuwan sudah banyak karya penelitian dan buku yang dihasilkan beliau. Dapat dikatakan selama menjadi ilmuwan dia hidup sebagai seorang asketis atau petapa yang selalu belajar dan mencari ilmu.
"Pesan beliau kepada semua muridnya, bila sudah teken kontrak sebagai sarjana sejarah, harus membuat
tulisan. Kalau sudah lulus doktor, ada istilah terbitkan atau hilang," kata Suhartono yang lulus doktor berkat bimbingan Sartono itu.
Hal senada juga diungkapkan mantan Ketua LIPI Dr Taufik Abdullah. Di matanya, Sartono adalah sejarawan pertama yang menulis sejarah dengan metode yang benar dan pendekatan multidisiplin. Oleh karena itu dia mendapat penghargaan di Amerika Serikat dari para peneliti Asian Studies.
"Dialah pionir ilmu sejarah Indonesia. Historigrafi Indonesia bukan sejarah tokoh-tokoh besar tapi orang
kecil dan lokal, seperti petani," ungkap Taufik.
Sementara itu, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif menambahkan dirinya kecewa karena orang yang melayat Prof Sartono sangatlah sedikit sekali. Padahal dia adalah seorang begawan ilmu sejarah Indonesia. Sartono adalah orang yang teliti dan bekerja secara sempurna.
"Dalam sebuah kesempatan beberapa tahun lalu, saya bertemu Pak Sartono. Saya katakan anda itu ayatullah sejarawan Indonesia, tapi dia hanya tersenyum saja. Saya juga sedikit kecewa yang melayat hari ini sedikit sekali," pungkas Syafii.
Selamat Jalan, Pak Sartono.
(bgs/ana)











































