Kepolisian tak langsung membuka kasus yang terjadi pada Minggu 25 Nopember 2007 lalu. Beberapa hari kemudian atau tepatnya Kamis (29/11), Kapolda Jateng Irjen Dody Sumantyawan HS angkat bicara.
Dody membenarkan adanya penembakan terhadap Lausther Cross (bukan Lausther Cross). Namun dia tak mengungkapkan dengan kronologis kejadiannya dan motif pelaku. Karena itu, isu perampokan berkembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat reka ulang kejadian yang digelar pada 6 Desember, kepolisian tidak mengizinkan wartawan mendekat ke lokasi. Alhasil, peristiwa yang sempat mengagetkan warga Desa Trunuh, Kecamatan Klaten, itu seperti misteri.
Cross sendiri tak mungkin diwawancarai, karena sebagai orang penting di sekolah antiteror atau yang lebih dikenal dengan Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) di Semarang itu sudah pasti sulit ditemui.
Belakangan diketahui, penembakan itu hanya 'ulah' empat anggota Satnarkoba Polres Klaten yang tengah mengincar pengedar narkoba. Kini keempatnya diperiksa, karena dinilai melanggar kode etik profesi.
"Kasus itu murni salah tembak. Empat anggota sebetulnya hendak menangkap pengedar narkoba yang bertransaksi. Kebetulan pada saat dan tempat yang sama, mobil Direktur JCLEC melintas dan dikira mobil pengedar," kata Dody, Jumat (7/12/2007).
. (try/nrl)











































