Para guru yang stres itu kebanyakan terpisah dari keluarga karena harus bertugas di daerah terpencil, seperti di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Akibat stres berat ini Pemda pun kewalahan menghadapinya.
"Kita menduga penyebab stres itu karena 'sangkar' jauh dari 'burung'. Yang stres itu mereka yang sudah berkeluarga. Mungkin karena tugasnya di daerah terpencil mereka jadi jarang melakukan hubungan suami istri," terang Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Inhil, Riau, Pahrul Rozi dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (7/12/2007).
Menurut Pahrul, pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hal ini. Salah satunya dengan melakukan rotasi penugasan. Meski diakuinya, hal tersebut bukan masalah yang mudah. Sebab guru lebih banyak yang memilih mengajar di lokasi yang mudah terjangkau.
"Artinya sejumlah guru yang sudah terlalu lama mengajar di daerah terpencil akan dimutasikan ke daerah yang mudah terjangkau. Sehingga mereka bisa bersatu kembali dengan suami atau istri dan keluarga mereka. Sebab, selama ini guru yang bertugas di daerah terpencil tidak membawa keluarganya," kata Pahrul.
Pahrul menjelaskan, jumlah guru diΒ Inhil sebanyak 15 ribu orang, baik guru bantu maupun yang sudah berstatus PNS. Dari jumlah itu, sekitar 500 guru bertugas di daerah terpencil yang sangat sulit terjangkau. Walau para guru mendapat subsidi Rp 1 juta dari Pembkab Inhil dan Rp 200 ribu dari Pemprov Riau, namun jumlah dana itu masih dinilai minim.
"Jangan dikira subsidi Rp 1 juta itu besar nilainya untuk ukuran Indragiri Hilir, apalagi bagi guru-guru yang berada di daerah terpencil. Untuk ke ibukota kabupaten atau kecamatan saja mereka harus mengeluarkan dana paling sedikit Rp 400 ribu pulang pergi. Belum lagi untuk keperluan yang lain," katanya. (cha/djo)











































