Menilik Ramai-ramai Pembagian Desil DTSEN

detikSore

Menilik Ramai-ramai Pembagian Desil DTSEN

20detik Signature - detikNews
Kamis, 27 Agu 2026 14:45 WIB
Gaduh Pembagian Desil DTSEN
Foto: irsyad
Jakarta -

Belum lama, Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan survei terkait Data Tunggal Sosial Ekonomi nasional. Tindakan ini dilakukan dalam rangka pemutakhiran tingkat ekonomi warga Indonesia. Nantinya, hasil dari sensus ekonomi ini akan digunakan sebagai acuan pemerintah dalam menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan bansos hingga pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

Sayangnya, usai proses tersebut selesai, kegaduhan muncul. Sebabnya, beberapa orang merasa jika pembagian desil dari sensus tersebut tidak akurat. Seperti ditulis detikcom sebelumnya, ketidakakuratan data tersebut pada akhirnya merugikan warga yang terdampak.

Di Yogyakarta, seorang penarik bentor terpaksa meminta keringanan biaya kuliah anaknya usai dirinya terdaftar di desil 9. Timbul, warga Lendah, Kulon Progo, akhirnya harus mengajukan keringanan lewat program PIP usai anaknya harus membayar Rp 15 juta rupiah untuk masuk ke Universitas Negeri Yogyakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal serupa juga terjadi di Mataram, NTB. sejumlah warga memprotes saat nama mereka tercatut dalam Desil 10. Padahal, mereka mengaku jika hidup mereka masih pas-pasan dan tinggal di kontrakan.

Banyaknya kasus serupa membuat pemerintah buka suara. Mengutip detikSumut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menanggapi polemik terkait penghitungan desil tersebut. Ia menegaskan pemerintah akan memperhatikan berbagai keluhan masyarakat apabila ditemukan ketidaktepatan dalam penetapan desil dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan.

"Ya, tentunya keluhan-keluhan yang terjadi, masalah-masalah yang terjadi menjadi masukan bagi pemerintah untuk bisa dikoreksi," ujar Qodari di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).

Terbaru, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa telah menyiapkan dana Rp 7 triliun terkait perbaikan DTSEN. Angka tersebut sesuai dengan permintaan BPS dalam rangka menyajikan data yang akurat.

"Jadi, DTSEN sama sensus itu kalau nggak salah hampir Rp 7 triliun lebih sedikit. Dengan macam-macam ya, cukup banyak. Jadi, mereka waktu awal-awal tahun, minta penambahan anggaran kita penuhi untuk memastikan DTSEN-nya bagus," kata Purbaya di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).

Lalu di mana letak kesalahan penetapan desil ini? Bagaimana seharusnya pemerintah memperbaiki mekanisme pemutakhiran DTSEN di masa depan? Simak ulasannya bersama Anggota Komisi VIII, Selly Andriany Gantina dalam detikSore!


Beralih ke Jawa Timur, jalur pendakian Gunung Semeru resmi ditutup total mulai Rabu, 26 Agustus 2026. Langkah ini diambil secara tegas oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( BB TNBTS) menyusul munculnya titik kebakaran hutan di kawasan Blok Ranu Kembang yang berada di sekitar jalur pendakian.

Penutupan jalur pendakian ini pun berlaku sejak pengumuman diterbitkan hingga waktu yang belum ditentukan. Pihak pengelola akan terus mengevaluasi kondisi lapangan sebelum membuka kembali akses menuju puncak Mahameru. Lalu, Indikator apa yang akan digunakan TNBTS untuk menentukan kapan jalur pendakian Gunung Semeru aman untuk kembali dibuka? Bagaimana nasib calon pendaki yang sudah membeli tiket sebelum penutupan diberlakukan? Simak laporannya bersama jurnalis detikJatim.


Kembali membahas dampak karhutla, detikSore akan mengupasnya dari sisi kesehatan. Seperti diulas sebelumnya, kebakaran lahan dan hutan melepas banyak karbon dan senyawa-senyawa yang berbahaya. Hal ini akan berakibat fatal bagi masyarakat yang menghirup asap pekatnya. Asap karhutla juga dapat membawa partikel halus yang berdampak pada paru-paru hingga jantung, bahkan ketika gejala belum terasa.

Merangkum detikcom, karhutla berdampak di tujuh provinsi dan membuat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap. Angka yang dikutip dari data Kemenkes per 21 Agustus 2026 ini menggambarkan besaran dampak yang dialami oleh masyarakat.

Seperti ditulis detikHealth, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan) melonjak hingga 78,1 persen di Kalimantan Tengah. Lalu apa saja ancaman kesehatan tersembunyi yang akan dihadapi masyarakat terdampak? Temukan jawabannya bersama redaktur detikhealth dalam segmen Sunsetalk.


Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.

"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"

(vys/gub)


Berita Terkait