"Tidak ada masalah. It's not a big deal. Kalau sudah masuk ke pesawat dan terbang, itu baru masalah kita," ujar Humas Lion Air kepada detikcom, Hasyim Arsal A Habsyi, Jumat (7/12/2007), pukul 09.00 WIB.
"Kalau sampai masuk di pesawat, kita kan akan lakukan pengecekan lagi. Kita sudah lakukan prosedur yang benar," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pemeriksaan barang itu bukan otoritas kita. Apakah Lion Air harus membikin X-Ray sendiri di pesawat? Pemeriksaan barang itu kan ada di bandara. Kalau manusia bisa saja masuk dengan cara apa pun. Tapi kalau sampai terbang itu yang masalah besar," kata Hasyim.
Hasyim mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan pengecekan secara kontinyu. Kalau pun pihak Lion Air mendapat teguran dari pihak bandara karena ada penumpang tak bertiket bisa memasuki pesawatnya, itu bukan masuk dalam wilayah Lion Air, tapi bandara.
"Kita akan lihat teguran dalam arti apa. Kita terima tegurannya. Kalau kita sampai menerbangkan berarti kita ada hukuman. Ini kan sudah ketahuan sebelum terbang. Jadi kita sudah melakukan hal yang benar. Tapi tetap akan menjadi perhatian kita," imbuhnya.
Nano menyusup Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu, 5 Desember 2007. Dia masuk ke bandara tanpa tiket lewat pintu depan, seperti penumpang pada lazimnya. Dia bisa lolos dari pintu pemeriksaan x-ray, check in hingga ruang tunggu boarding. Saat itu dia mengenakan jaket hitam petugas keamanan PT Angkasa Pura II.
Nano lalu masuk ke pesawat Lion Air rute Jakarta-Banjarmasin. Di sinilah dia celingak-celinguk.
Pramugari dengan ramah menanyakan nomor tempat duduknya sebagaimana yang tertulis di tiket. Dan Nano gagal menunjukkannya. Dia lalu digiring ke pos keamanan. Polisi menduga Nano kurang waras. (ziz/nrl)










































