Melarang Maskapai UE Masuk RI Lebih Banyak Ruginya
Jumat, 07 Des 2007 07:58 WIB
Jakarta - Ancaman Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal yang akan melarang balik maskapai Uni Eropa (UE) masuk ke Indonesia jika negosiasi gagal, dinilai tidak bijak. Akan lebih banyak kerugian yang diderita Indonesia."Coba hitung, berapa pesawat dari eropa yang mendarat di Bali dan Jakarta setiap hari. Berapa nilai kerugian yang harus ditanggung kalau kita perang terbuka," cetus Wakil Ketua Komisi V DPR Ali Mubarok ketika dihubungi detikcom, Kamis (7/12/2007).Menurut politisi asal PKB ini, jika Indonesia sampai melarang balik maskapai UE, yang akan mengalami kerugian adalah dunia pariwisata. "Itu bukan cara yang baik," tegasnya.Seharusnya, lanjut Ali, Dephub meningkatkan kapasitas tim lobi untuk merayu UE agar larangan dicabut. Hal itu juga harus dibarengi perbaikan-perbaikan ke dalam yang selama ini menjadi catatan UE."Bagaimana mau dicabut larangan, Bandara Polonia saja terbakar. Penuhi dulu berbagai syarat keselamatan," imbuh Ali.Meski begitu, dia menduga, ada alasan lain di balik pelarangan UE tersebut. Setidaknya maskapai Garuda Indonesia bisa sudah memenuhi syarat terbang ke eropa. "Garuda sudah layak. Indonesia kan sudah masuk ICAO kenapa eropa masih menolak. Saya tidak tahu lagi alasannya apa," tutup Ali.
(bal/nrl)











































