Ledakan yang diduga berasal dari gas bocor itu terjadi tepat sebelum tengah malam. "13 Penambang berhasil diselamatkan, 70 jenazah telah ditemukan dan 26 lainnya tejebak," demikian pernyataan yang dikeluarkan jubir kantor Administrasi Keselamatan Pertambangan Cina, An Yuanjie, seperti dilansir AFP, Kamis, (6/12/2007).
Selain penambang, sebanyak 32 anggota regu penyelamat yang diturunkan ke lokasi setelah ledakan, ikut terjebak dalam pertambangan tersebut. Namun Yuanjie menolak menjelaskan penyebab kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus segera menyusun kekuatan polisi. Memeriksa pemilik dan orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini, menutup tambang dan membekukan rekening bank mereka," tegas Yuanjie.
Peristiwa ledakan ini merupakan yang kesekian kalinya. Industri tambang batubara di Cina dinilai sebagai salah satu industri pertambangan dengan tingkat standar keselamatan terburuk di dunia.
Tahun lalu, catatan resmi yang dikeluarkan pemerintah menyebutkan, sebanyak 4.700 penambang tewas dalam berbagai peristiwa ledakan dan kecelakaan. Jika dibuat rata-rata, setiap hari nyaris 13 penambang tewas.
Jumlah ini diyakini jauh dari angka sesungguhnya. Organisasi buruh independen bahkan mengklaim angka 20 ribu penambang tewas pada tahun lalu, alasannya banyak kecelakaan yang ditutup-tutupi.
Kebutuhan besar atas batubara sebagai salah satu sumber energi, membuat eksplorasi besar-besaran dilakukan oleh sejumlah perusahaan tambang dalam dekade terakhir. Provinsi Shanxin merupakan salah satu wilayah yang memiliki kandungan batubara terbesar di Cina.
Radio Nasional Cina menyebutkan ledakan tersebut disebabkan salah satunya karena overproduksi. Pertambangan yang meledak itu diberi izin melakukan eksplorasi dengan kapasitas 210 ribu ton batubara per tahunnya.
(bal/bal)











































