"Yang tidak lolos justru lebih bagus dari pada yang lolos, contohnya Amin Sunaryadi. Yang dulu dinyatakan lolos, sekarang nggak lolos. Ini aneh. Berarti ada selera yang berbeda," kata anggota Komisi III dari FPG Akil Mochtar di sela-sela paripurna di Gedung DPR, Senayan, Kamis (6/12/2007).
Menurut Akil, karena DPR merupakan ruang politik, pilihannya tentu berdasarkan pilihan politik. Sehingga wajar jika figur yang diharapkan masyarakat tidak lolos, karena dalam pandangan politik tidak menguntungkan.
Kekecewaan yang sama disampaikan Ketua FPKS Mahfudz Sidiq. Menurutnya, tidak terpilihnya orang-orang bersih seperti Amin Sunaryadi, mengindikasikan kecemasan para politisi dan pejabat terhadap konsistensi dan komitmennya dalam pemberantasan korupsi.
"FPKS menyayangkan tidak terpilihnya Amin sebagai unsur pimpinan KPK. Padahal Amin punya kompetensi dan dapat menjaga kesinambungan kerja KPK. Ini mengindikasikan kecemasan politisi terhadap figur yang bersih," ujarnya.
Hujan Ejekan
Sementara anggota FKB Nursyahbani Katjasungkana mengaku banyak mendapat ejekan dari teman-teman dari berbagai LSM atas kerja DPR yang menetapkan Antasari sebagai Ketua KPK.
Diungkapkan dia, hujan ejekan melalui SMS itu kebanyakan menyayangkan DPR sampai memilih Antasari.
"Saya capek membaca dan menanggapi SMS, telepon-telepon dari teman yang kecewa atas terpilihnya Antasari. Mereka berpikir ini sebagai kemunduran," imbuhnya.
Namun Nursyahbani berharap, masyarakat tetap mengawasi kinerja pimpinan KPK yang baru, sehingga kecemasan itu dapat dikontrol. (mly/sss)











































