3 Cara Cek Titik Panas dan Pantau Karhutla Secara Online

3 Cara Cek Titik Panas dan Pantau Karhutla Secara Online

Widhia Arum Wibawana - detikNews
Jumat, 21 Agu 2026 12:06 WIB
Titik Api Kalimantan di Google Maps
Ilustrasi pantau titik panas di Kalimantan melalui Google Maps. (Foto: detikINET)
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat dipantau sejak dini melalui informasi titik panas atau hotspot yang terdeteksi satelit. Data ini tersedia melalui sejumlah layanan resmi yang bisa diakses masyarakat untuk melihat wilayah yang terindikasi mengalami anomali suhu.

Informasi hotspot dapat membantu mengetahui daerah yang perlu mendapat perhatian lebih. Data ini merupakan indikasi awal yang tetap perlu dianalisis dan, bila diperlukan, diverifikasi di lapangan.

Hotspot atau titik panas adalah lokasi di permukaan bumi yang terdeteksi memiliki anomali suhu panas oleh sensor satelit. Sementara itu, karhutla adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan/atau lahan. Karena itu, kemunculan hotspot tidak selalu berarti telah terjadi karhutla.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, bagaimana cara mengecek hotspot dan memantau informasi karhutla? Berikut beberapa layanan yang dapat digunakan.

1. SiPongi+ Kemenhut

SiPongi+ merupakan Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Layanan ini menyajikan data dan informasi hotspot terkini serta informasi terkait kebakaran hutan lainnya.

Cara mengeceknya:

  1. Buka laman SiPongi+ di https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/
  2. Pilih menu Peta Hotspot untuk melihat persebaran titik panas.
  3. Perbesar peta pada wilayah yang ingin dipantau.
  4. Perhatikan titik hotspot yang muncul.
  5. Cek tingkat kepercayaan pada setiap titik.
  6. Untuk informasi lebih rinci, buka menu Sebaran Titik Panas.
  7. Pilih periode, provinsi, satelit, dan tingkat kepercayaan sesuai kebutuhan.

Pada SiPongi+, warna menunjukkan tingkat kepercayaan atau confidence level hotspot.

  • Hijau atau low (0-29%): indikasinya rendah.
  • Kuning atau medium (30-79%): indikasinya sedang dan perlu verifikasi.
  • Merah atau high (80-100%): indikasinya tinggi dan perlu lebih diperhatikan.

Meski tingkat kepercayaannya tinggi, hotspot tetap bukan bukti mutlak bahwa kebakaran sedang berlangsung. Data satelit perlu dipadukan dengan informasi lain dan, bila diperlukan, pengecekan di lapangan.

Tangkapan layar laman SiPongi KemenhutTangkapan layar laman SiPongi Kemenhut, Jumat (21/8/2026). | Foto: Dok. Istimewa

2. Citra Polar Hotspot BMKG

BMKG menyediakan layanan Citra Polar Hotspot yang menampilkan citra satelit terbaru untuk membantu melihat lokasi hotspot di Indonesia. Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada beberapa satelit polar.

Cara mengeceknya:

  1. Buka laman https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot
  2. Halaman menampilkan peta citra satelit dan deteksi hotspot secara berkala.
  3. Cari area yang ingin dipantau melalui menu pencarian.
  4. Amati titik hotspot dan persebarannya.
  5. Pantau kembali secara berkala untuk melihat pembaruan terbaru.

Berbeda dengan SiPongi+, data yang ditampilkan pada laman Citra Polar Hotspot BMKG perlu dibaca dengan memperhatikan lokasi, persebaran, dan waktu pengamatan.

BMKG menjelaskan bahwa hotspot merupakan anomali suhu panas yang dideteksi satelit dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya. Namun, titik hotspot tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada di blank zone. Artinya, tidak munculnya hotspot bukan berarti suatu wilayah pasti bebas dari kebakaran.

Tangkapan layar laman Citra Polar Hotspot BMKGTangkapan layar laman Citra Polar Hotspot BMKG, Jumat (21/8/2026). | Foto: Dok. Istimewa

3. Layanan Google Maps

Selain layanan pemerintah, Google Maps juga bisa digunakan sebagai tambahan untuk melihat informasi kebakaran aktif. Berbeda dengan SiPongi+ dan BMKG, Google Maps tidak menampilkan data hotspot dengan tingkat kepercayaan yang sama, melainkan informasi wildfires atau kebakaran yang sedang berlangsung.

Cara mengeceknya:

  1. Buka aplikasi Google Maps.
  2. Ketuk menu Lapisan atau Layers.
  3. Pilih Wildfires atau Kebakaran hutan jika tersedia.
  4. Perbesar peta pada wilayah yang ingin dipantau.
  5. Ketuk ikon atau area kebakaran untuk melihat informasi yang tersedia.

Di Google Maps, kebakaran dapat ditampilkan sebagai ikon kebakaran atau lingkaran merah. Area merah menunjukkan perkiraan wilayah yang terdampak kebakaran aktif, sedangkan area berwarna kuning menunjukkan wilayah kebakaran yang tingkat kepastiannya lebih rendah.

Google menggunakan data dari sejumlah sumber, termasuk informasi otoritas dan data satelit, serta teknologi AI dan machine learning untuk mendeteksi dan memantau kebakaran. Namun, informasi yang ditampilkan bersifat perkiraan sehingga batas kebakaran di peta bisa berbeda dari kondisi sebenarnya di lapangan.

Tangkapan layar laman Google MapsTangkapan layar laman Google Maps, Jumat (21/8/2026). | Foto: Dok. Istimewa

Pahami Informasi Hotspot dan Karhutla

Memahami data hotspot penting agar masyarakat tidak keliru mengartikan titik panas sebagai bukti pasti terjadinya karhutla. Hotspot merupakan hasil deteksi satelit yang bisa membantu memberikan indikasi awal, tetapi tetap memiliki keterbatasan.

Karena itu, pantau data dari sumber resmi secara berkala dan perhatikan waktu serta kondisi wilayah yang dipantau. Jika melihat asap atau api secara langsung, jangan mendekati lokasi dan segera laporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti.

Tonton juga video "Peta Kalimantan Dipenuhi Titik Merah, Warganet Gaungkan Pray for Kalimantan!"

(wia/zap)


Berita Terkait