Meski berlangsung di dunia cyber, konferensi ini tak bisa dianggap remeh. Tuan rumah atau moderator konferensi ini adalah Nature Publishing Group (NPG) , perusahaan penerbitan jurnal ilmiah yang cukup ternama di Inggris, seperti dilansir AFP, Rabu (5/12/2007).
Kalau UNFCCC dilangsungkan di Nusa Dua, Bali, konferensi ini dilaksanakan di Second Life dalam sebuah pulau cyber buatan NPG, Second Nature. Tak tanggung-tanggung, lingkungan 3 dimensi ini mempunyai mata uang sendiri, bahkan hingga permainan dan kehidupan seksual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
di Bali, melalui majalah yang diterbitkan situs mereka. Berita-berita di majalah itu dipasok oleh wartawan sungguhan yang meliput di UNFCCC.
Kompetensi delegasinya cukup mumpuni. Di antaranya ahli karbon dari Imperial College London Tara LaForce, Simon Buckle dari Grantham Institute for Climate Change, serta jurnalis dan penulis buku 'How We Can Stop the Planet From Burning' George Monbiot.
Perubahan iklim menjadi perdebatan yang panas bagi para avatar (sebutan penduduk Second Life).
Menurut hitungan para avatar, tiap avatar menyumbang polusi 75 kilowatt-hours (Kwh) per tahun atau setara 39 kilogram karbondioksida (CO2) per tahun yang dilepas di atmosfer dalam dunia nyata.
Kelihatannya seperti pemborosan listrik. Namun itu juga merupakan sindiran bagi delegasi yang datang ke Bali untuk menghadiri UNFCCC. Menurut situs itu, sekitar 10 ribu delegasi yang hadir dalam UNFCCC di
Bali juga menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya. Gambaran kasarnya, 1 tiket pulang-pergi per penumpang pesawat London-New York menghasilkan 1,2 ton CO2 ke udara.
"Berdebat di Second Nature lebih ramah lingkungan dibanding naik pesawat terbang ke Indonesia, dimana pertemuan resmi diadakan," ujar Nature.
Mau tahu jumlah pesertanya? Sekitar 7 juta orang penduduk Second Life dari seluruh dunia. Kalau Anda tertarik, selancar saja ke slurl.com/secondlife/SecondNature/218/213/28. (nwk/ken)











































