Waka MPR Dorong Pengembangan EBT Bermanfaat bagi Industri & Tenaga Kerja

Waka MPR Dorong Pengembangan EBT Bermanfaat bagi Industri & Tenaga Kerja

Angelina Vioni - detikNews
Kamis, 13 Agu 2026 14:09 WIB
Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mendengarkan berbagai masukan dari KADIN Jawa Tengah dan pelaku industri terkait pengembangan industri hijau. Eddy menegaskan transisi energi adalah keseluruhan dari upaya menyelamatkan lingkungan, strategi pertumbuhan ekonomi, sekaligus industrialisasi.

Dalam audiensi yang digelar di Semarang, Rabu (12/8) dengan tajuk Central Java Green Industry Initiative, Eddy menuturkan pengembangan energi terbarukan harus memberikan manfaat nyata bagi industri nasional dan tenaga kerja Indonesia.

"Transisi energi jangan hanya membuat kita menjadi pasar teknologi hijau dari luar negeri. Kita harus memastikan industri dalam negeri ikut tumbuh, tenaga kerja Indonesia mendapatkan pekerjaan berkualitas, dan nilai tambahnya tinggal di Indonesia," ujar Eddy, dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan Jawa Tengah memiliki modal kuat untuk menjadi lokomotif industri hijau. Selain memiliki momentum investasi yang terus meningkat, Jawa Tengah memiliki potensi EBT lebih dari 200 GW serta kawasan industri dan konektivitas yang semakin berkembang.

Momentum investasi Jawa Tengah juga terus menguat. Realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar Rp110 triliun dengan 105.078 proyek dan menyerap 418.138 tenaga kerja.

Provinsi ini juga telah memiliki tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus, dengan 12 kawasan lainnya dalam tahap persiapan.

"Jadi kita punya modal yang lengkap. Ada investasinya, ada kawasan industrinya, ada tenaga kerjanya, ada konektivitasnya, dan ada potensi energi terbarukannya,"

"Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana semua potensi ini kita satukan menjadi ekosistem industri hijau yang benar-benar kompetitif?" kata Eddy.

Di sisi lain, peluang tersebut masih menghadapi persoalan struktural dalam ekosistem investasi. Menurutnya, investor membutuhkan kepastian hukum, konsistensi kebijakan, proses perizinan yang lebih cepat dan sederhana, serta insentif yang mampu menutup green cost premium.

"Kalau kita ingin investasi hijau masuk dalam skala besar, maka investor membutuhkan regulasi yang konsisten, perizinan yang cepat, akses energi yang andal dan kompetitif, serta insentif yang tepat sasaran," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa masukan dari KADIN dan pelaku industri akan menjadi bahan penting untuk mendorong kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.

Menurutnya, transisi energi harus diikuti dengan penguatan industri dalam negeri, pengembangan rantai pasok domestik, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta penciptaan lapangan kerja baru.

"Transisi energi harus menghasilkan tiga hal sekaligus: emisi turun, industri tumbuh, dan lapangan kerja berkualitas tercipta. Kalau itu kita capai, maka transisi energi bukan beban, tetapi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia," pungkas Eddy.

Tonton juga video "Gedung Parlemen Bersolek Jelang Sidang Tahunan MPR"

(anl/ega)


Berita Terkait