Tidak hanya di area Bromo dan Gunung Gede, kebakaran lahan dan hutan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Sementara banyak mata tertuju pada peristiwa kebakaran di kawasan Taman Nasional, Pemerintah juga memusatkan perhatian ke 6 wilayah di Indonesia yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Dari keenam wilayah tersebut, setidaknya sudah ada 48 ribu hektar lebih area lahan terbakar, dengan Kalimantan Barat sebagai penyumbang terbesar dengan angka hampir menyentuh 30 ribu hektar. Sulitnya pengendalian api di daerah tersebut dipengaruhi oleh karakteristik lahan yang sebagian besar ditumbuhi gambut. El Nino juga disebut-sebut sebagai faktor pendorong bertambahnya luasan kebakaran akibat cuaca panas.
BMKG menyebut jika kondisi karhutla tidak cukup hanya dilihat dari ada atau tidaknya titik api. Mengutip detikKalimantan, Forecaster On Duty Stasiun Meteorologi Iskandar Kelas III Kotawaringin Barat, Ayu Istiqomah menyebut jika tingkat kekeringan lahan juga perlu dipantau karena berpotensi memunculkan sumber asap tatkala menghadapi cuaca terik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu indikator yang dipantau adalah hotspot dari satelit Terra dan Aqua yang diakumulasi dalam 24 jam terakhir. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki indikasi aktivitas kebakaran," kata dia.
Secara nasional, pemerintah telah menyiagakan 43 helikopter untuk mendukung operasi penanganan karhutla. Upaya lain yang tengah diusahakan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghasilkan hujan buatan. Masalahnya, OMC hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan hujan.
"Operasi udara sebetulnya sangat efektif, menimbulkan hujan buatan yang dilakukan oleh BNPB. Itu yang paling efektif," kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago dikutip dari detikNews, Senin (10/8).
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita harus menemukan ada awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," sambungnya.
Lalu bagaimana cara menekan angka karhutla? Benarkah kebakaran hutan dan perubahan iklim merupakan lingkaran yang saling berkaitan? Simak ulasannya dalam detikSore!
Beralih ke daerah, kali ini detikSore akan mengulas penemuan mayat perempuan di sebuah sumur di Kampung Cilolohan, Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Selain jasad korban, ditemukan pula seekor ular kobra di dalam sumur tersebut.
Korban diketahui bernama Aam Amelia (45), yang merupakan warga sekitar. Proses evakuasi jenazah korban berlangsung dramatis. Penyebabnya adalah terdapat ular kobra besar di dasar sumur. Korban pertama kali ditemukan setelah warga mencium bau tidak sedap dari area sumur. Setelah dicek, ternyata sumber bau berasal dari dalam sumur sedalam 11 sampai 12 meter. Seperti apa update terbaru dari peristiwa ini? Bagaimana jalannya proses evakuasi jasad korban? Simak laporan lengkapnya bersama jurnalis detikJabar.
Jelang matahari terbenam nanti, detikSore akan mengundang Gen Z yang kreatif mengubah uang saku menjadi peluang cuan. Salah satunya Skywalker Phoenix, siswa kelas 12 SMA Plus PGRI Cibinong, yang memanfaatkan waktu istirahat untuk membuka kafe mini di dalam kelas. Bermodal peralatan dari rumah, ia meracik kopi sendiri untuk dijual kepada teman-teman hingga guru.
Aktivitas ini viral di media sosial dan membuat usaha kecil Skywalker menarik perhatian. Di balik secangkir kopi, ia menjalani sendiri proses bisnisnya, mulai dari menyiapkan bahan, menentukan menu dan harga, menerima pesanan, hingga meracik minuman.
Lantas, bagaimana awal mula Skywalker melihat peluang ini dan menjalankan bisnisnya di tengah kesibukan sebagai pelajar? temukan jawabannya dalam segmen Sunsetalk!
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"










































