Demikian hasil riset para pakar Kanada dan Inggris yang dilaporkan dalam edisi Desember "Biological Psychiatry" seperti diberitakan News.com.au, Selasa (4/12/2007).
Dalam riset ini, Ian Colman dari Universitas Alberta dan rekan-rekannya di Inggris meneliti 4.600 warga Inggris yang lahir pada tahun 1946. Mereka ikut serta dalam studi yang berlangsung 40 tahun itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi kurang menguntungkan di rahim yang mengganggu pertumbuhan janin bisa menyebabkan perbedaan otak. Semakin berkurang berat lahir, maka lebih mungkin seseorang mengalami gangguan mood nantinya.
"Semakin bertambah berat saat lahir, kemungkinan gejala depresi dan kecemasan selama hidup pun berkurang," tutur Colman.
Dalam studi ini, para periset hanya melihat catatan medis dan tidak meneliti kemungkinan penyebabnya. Dikatakan Colman, mungkin saja ketika ibu stres, hormos stres akan keluar melalui plasenta menuju janin.
Namun ditekankannya, tidak semua bayi kecil bakal memiliki kesehatan mental yang buruk. "Lahir kecil tidak selalu berarti masalah. Itu jadi masalah jika Anda dilahirkan kecil karena kondisi kurang menguntungkan dalam rahim. Dan berat lahir rendahlah yang kami lihat dalam studi ini karena itu dianggap sebagai tanda stres dalam rahim," kata Colman.
Menurut Colman, ketika seorang ibu hamil mengalami stres berat, aliran darah ke uterus terhambat dan janin pun kurang mendapat gizi, sehingga menyebabkan berat lahir rendah.
"Kita harus lebih memperhatikan wanita hamil," ujar Colman ketika ditanyai mengenai pesan yang dibawa studi ini. (ita/sss)











































